alexametrics
Jumat, 16 Apr 2021
radarsurabaya
Home > Gresik
icon featured
Gresik

Pekan Keempat PPKM di Surabaya, Fokus Pantau Pasar Tradisional

03 Februari 2021, 14: 59: 52 WIB | editor : Wijayanto

DIKETATI: Kepadatan di pasar tradisional seperti Pasar Keputran ini masih tinggi sehingga pemerintah memutuskan untuk mengetatkan pengawasan protokol kesehatan.

DIKETATI: Kepadatan di pasar tradisional seperti Pasar Keputran ini masih tinggi sehingga pemerintah memutuskan untuk mengetatkan pengawasan protokol kesehatan. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) telah berjalan selama tiga pekan. Pemkot Surabaya memperketat protokol kesehatan di pasar-pasar pada pekan keempat PPKM.

Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana mengatakan, pada pekan keempat PPKM ini penekanannya di pasar-pasar tradisional. Pemkot juga akan membuka posko pemantauan di pasar. Sebab, selama ini pemantauan kerumunan di pasar kurang intensif. 

"Kita buka posko untuk memantau setiap hari di Pasar Wonokromo, Keputran, hingga Pabean. Karena tingkat kerumunannya makin tinggi. Dan, saran dari Pak Menko (Luhut Binsar Panjaitan), pemantauan dilakukan selama 24 jam," kata Whisnu.

Baca juga: STIE Perbanas Surabaya Gelar Dies Natalis ke-51 Tahun Secara Virtual

TAAT PROKES: Petugas gabungan memantau pelaksanaan PPKM di Pasar Kalianak, Surabaya.

TAAT PROKES: Petugas gabungan memantau pelaksanaan PPKM di Pasar Kalianak, Surabaya. (ISTIMEWA)

Penekanan selama seminggu ini mengingat PPKM dinilai tidak efektif oleh pemerintah pusat. Selain kasus positif bertambah, mobilitas warga pun masih tinggi. "Kurang efektifnya karena PPKM yang sudah berjalan tiga minggu ini kasus positifnya bertambah. Namun, Surabaya sudah zona kuning. Sudah ada penurunan kasus positifnya. Jadi, kami akan lebih tekankan untuk melihat keefektifan dalam satu minggu ini," jelasnya.

Whisnu berharap daerah-daerah lain di Jatim juga berkurang kasus positifnya. Meskipun nantinya PPKM tidak diperpanjang lagi, pengetatan dilakukan di protokol kesehatan (prokes). "Kita harapkan daerah lain juga bergerak sama seperti Surabaya yang kasus positifnya turun," katanya.

Selain itu, pihak pemkot juga akan mengevaluasi penutupan sejumlah jalan protokol di Kota Surabaya. Apakah akan dilakukan setiap malam atau hanya akhir pekan saja. Penutupan jalan tersebut dirasa Whisnu sangat efektif untuk penurunan kasus Covid-19 di Surabaya. "Kita akan evaluasi penutupan jalan apakah perlu diperluas atau tidak," katanya.

Whisnu menyebut selama ini kasus Covid-19 di atas 100 orang per hari. Namun, setelah dilakukan penutupan jalan bisa turun ke angka di bawah 80 orang yang terpapar Covid-19. "Kita harapkan di bawah 50 orang  per hari," katanya.

Wakil Sekretaris Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya Irvan Widyanto mengatakan, dari beberapa sektor yang telah dimonitor rata-rata nilai kepatuhannya 80 persen. Kecuali tempat hiburan malam, PKL, pasar tradisional, tempat makan dan minum, bahkan tempat ibadah. Faktor pelanggarannya, banyak terjadi kerumunan, tidak pakai masker dengan alasan sulit bernapas, dan tidak disediakan tempat cuci tangan. “Makanya, kami konsentrasi operasi di pasar tradisional,” katanya.

Irvan berharap ada perubahan perilaku atau adaptasi kebiasaan baru. Target perubahan perilaku masyarakat mulai dari yang tidak biasa menjadi biasa.

“Misalnya, kita tidak terbiasa memakai masker akhirnya harus memakai masker. Kita biasanya tidak menjaga jarak akhirnya menjaga jarak dan seterusnya,” terangnya.

Menurut Irvan, perubahan perilaku itu yang menjadi target bersama selama PPKM jilid satu dan jilid dua. Terutama saat terjadi kerumunan seperti di pasar tradisional.

"Kunci memutus mata rantai pandemi ini adalah perubahan perilaku individu menjadi perubahan perilaku keluarga, lingkungan, tempat kerja, dan seterusnya,” pungkasnya. (rmt/rek)

(sb/rmt/jay/JPR)

 TOP