alexametrics
Minggu, 24 Jan 2021
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Kondisi Pandemi Jadi Momen Implementasi Merdeka Belajar

14 Januari 2021, 02: 33: 31 WIB | editor : Wijayanto

Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Wahid Wahyudi

Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Wahid Wahyudi (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA-Meski dalam kondisi pandemi Covid-19, namun Jumlah lulusan SMA di Jawa Timur (Jatim) yang lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2020 tertinggi secara nasional. Ini berarti pandemi tidak selalu berdampak buruk.

Dari data yang dihimpun dari Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), sebanyak 96.496 siswa yang diumumkan lolos dan masuk 86 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se-Indonesia. Dari jumlah itu sebanyak 13.803 berasal dari Jatim.

“Angka ini naik dari tahun 2019 lalu yang hanya sebanyak 13.737 yang lolos pada jalur SNMPTN,” ujar Kepala Dinas Pendidikan (Dispensing) Jawa Timur Wahid Wahyudi, Rabu (13/1).

Wahid mengatakan, pandemi Covid-19 yang terjadi beberapa bulan terakhir menyadarkan semua pihak, bahwa esensi pendidikan itu bukan sekolah, tetapi esensi pendidikan itu adalah belajar. Menurutnya, belajar bisa dimanapun.

“Khusus untuk pendidikan karakter, rumah menjadi institusi dan keluarga menjadi tempat belajar yang pertama dan utama. Pembelajaran jarak jauh butuh peran keluarga dan orang tua dengan ikut memfasilitasi serta mendorong agar yang belajar dari rumah nyaman,” jelasnya.

Mantan Kepala Dinas Perhubungan Jatim ini menuturkan, dampak positif yang diakibatkan pendemi adalah mempercepat implementasi merdeka belajar dengan pemanfaatan teknologi komunikasi, untuk pembelajaran jarak jauh. Hadirnya teknologi digital ini juga mendukung terlaksananya merdeka belajar dengan bebas menentukan media pembelajaran.

“Kemudian guru juga bebas menentukan bahan pembelajaran tentunya dalam koridor kurikulum nasional,” katanya.

Lebih lanjut Wahid mengatakan, untuk mendukung siswa dalam proses belajar, salah satu inovasi besar dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa adalah mempermudah akses internet untuk daerah terpencil seperti kepulauan, pegunungan dan pedalaman. Yakni dengan pemasangan alat anjungan belajar mandiri kerja sama antara pemprov dengan Kios Pintar (Kipin). 

“Anjungan belajar mandiri berisi semacam wifi, jangkauannya sekitar 20 meter. Tempat ini berfungsi seperti ATM tetapi isinya buka uang, melainkan modul-modul pembelajaran, dimana gurunya pun bisa meng-upload bahan pembelajaran dan siswa bisa mengunduhnya. Pada tahap pertama sudah terpasang tujuh tempat,” jelasnya.

Sebelumnya Wahid mengatakan, metode pembelajaran tahun 2021 masih sama dengan 2020, yakni pembelajaran jarak jauh secara daring. Sejauh ini Dispendik Jatim belum pernah menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM). “Yang harus diketahui adalah uji coba pembelajaran tatap muka. Itupun tidak semua sekolah (SMA/SMK), hanya sekolah yang ditunjuk oleh Pemprov Jatim dan disetujui pemerintah kabupaten kota,” katanya.

Wahid mengatakan, untuk jumlah siswa yang melaksanakan PTM jika pada kondisi normal sekitar 30 lebih siswa, namun pada masa pandemi Covid-19 ini dibatasi hanya 9-18 siswa.

“Untuk waktunya hanya tiga jam per hari tanpa istirahat. Selain itu, kantin juga tidak diperkenankan buka, artinya siswa diwajibkan membawa makanan maupun minuman sendiri,” pungkasnya. (mus/nur) 

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP