alexametrics
Minggu, 24 Jan 2021
radarsurabaya
Home > Hukum & Kriminal Surabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Jual Surat Rapid Test Antigen Palsu, Mahasiswa Jember Ditahan

12 Januari 2021, 13: 47: 18 WIB | editor : Wijayanto

CARI PELUANG: Polisi menunjukkan barang bukti dan tersangka kasus pemalsuan dokumen rapid test antigen COVID-19 yang berhasil diamankan di Mapolda Jatim, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Senin (11/1).

CARI PELUANG: Polisi menunjukkan barang bukti dan tersangka kasus pemalsuan dokumen rapid test antigen COVID-19 yang berhasil diamankan di Mapolda Jatim, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Senin (11/1). (M MAHRUS/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA-Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim menangkap seorang mahasiswa yang memanipulasi data dan pemalsuan surat hasil rapid test antigen. Tersangka Imam Baihaki, 23, warga Dusun Krajan III,  Kelurahan Jombang, Kecamatan Jombang, Jember, dijebloskan ke tahanan.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko mengungkapkan, tersangka Imam memanipulasi data dan memalsukan surat hasil rapid test antigen kemudian dijual melalui media sosial (medsos). "TKP Desa Krajan, Jombang, Kabupaten Jember. Tersangka IMB mahasiswa," ujar Gatot di Mapolda Jatim..

Dirreskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Farman menambahkan, kasus tersebut terungkap setelah menerima informasi dari masyarakat ada penjualan surat rapid test antigen dan antibodi palsu. Surat tersebut dijual melalui medsos Facebook (FB).

Setelah dilakukan lidik, tersangka teridentifikasi. Polisi lalu melakukan penangkapan terhadap tersangka di rumahnya pada Sabtu 9 Januari 2021.

"Tersangka sudah melakukan jual beli surat rapid test antigen palsu melalui Facebook sejak awal Desember 2020," ungkap Farman, kemarin. Surat tersebut dijual oleh tersangka tanpa melakukan pemeriksaan medis. 

Menurut Farman, sebelumnya tersangka juga sebagai pengawas tingkat kecamatan saat pilkada serentak 9 Desember 2020 lalu. Kemudian pada proses pelaksanaan, ada 27 orang petugas pengawas tempat pemungutan suara (TPS) terindikasi reaktif hasil rapid test.

"Oleh yang bersangkutan dibuatkan 24 lembar hasil rapid test antigen tanpa pemeriksaan medis," bebernya. Sebanyak 24 lembar surat tersebut dijual tersangka dengan harga Rp 50 ribu kepada pembeli. "Pasca pembuatan surat untuk petugas TPS, tersangka menjual kembali dengan harga Rp 200 ribu per lembar," terangnya.

Dari hasil penyelidikan, tersangka Imam dalam kurun waktu sekitar satu bulan mampu menjual sebanyak 44 lembar surat rapid test antigen palsu. Surat tersebut ada juga yang dijual dengan harga di atas Rp 200 ribu. "Dibuat oleh tersangka sendiri dengan mengatasnamakan Klinik Nurus Syifa," tandas Farman.

Dari tangan tersangka, Korps Bhayangkara menyita barang bukti satu unit laptop, beberapa lembar surat antigen palsu dan sebuah handphone (HP) yang digunakan sebagai sarana kejahatan.  (rus/rek)

(sb/rus/jay/JPR)

 TOP