alexametrics
Minggu, 24 Jan 2021
radarsurabaya
Home > Lifestyle Surabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Pameran Unkarupa Usung Objek Kearifan Lokal

06 Januari 2021, 00: 38: 47 WIB | editor : Wijayanto

SENI RUPA: Seorang pengunjung mengamati karya seni yang dipajang di Gedung T3 Fakultas Bahasa dan Seni Unesa dalam pameran yang bertajuk Unkarupa karya mahasiswa Seni Rupa, Selasa (5/1).

SENI RUPA: Seorang pengunjung mengamati karya seni yang dipajang di Gedung T3 Fakultas Bahasa dan Seni Unesa dalam pameran yang bertajuk Unkarupa karya mahasiswa Seni Rupa, Selasa (5/1). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA–75 mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Univeristas Negeri Surabaya (Unesa) pamerkan berbagai jenis karya seni mulai dari lukisan, batik, logam dan desain grafis. Ratusan karya seni tersebut terpajang rapi di gedung T3 Unesa.

Objek yang diusung pun beragam, ada yang mengangkat kearifan lokal, ada pula yang berkaitan dengan pandemi Corona (Covid-19). “Pameran Unkarupa ini sudah keempat kalinya. Sebenarnya ini adalah tugas mata kuliah mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Unesa,” ujar Ketua pelaksana pameran Muhamad Marshal Sundawa, Selasa (5/1).

Marshal menjelaskan, tema yang diusung kali ini adalah Enlighten 2021, para peserta berharap dapat memberikan pencerahan, utamanya dalam referensi atau sudut pandang bidang seni pendidikan.

Selain menggelar pameran secara offline, ia juga  mengadakannya secara online. Hal tersebut agar teman-temannya dan pecinta seni di kalangan pelajar bisa turut mengaksesnya. “Untuk offline, kami membatasi pengunjung untuk mencegah penularan Covid-19,” kata Marshal.

Terdapat 75 pameris yang terlibat. Karya mereka berasal dari gagasan atau keresahan terhadap sesuatu. Salah satu peserta pameran, Umi Lafiatus, memamerkan karya seni kinetik menarik berupa potongan kayu yang tinggi permukaanya berbeda-beda.

Selain itu ada berupa engkol untuk penggeraknya, sehingga ketika diengkol maka alat tersbeut bisa naik turun menyerupai gelombang. “Ini merupakan karya interaktif di mana pengunjung bisa memainkannya. Inspirasinya memang dari ombak yang menggambarkan hidup. Gerakan naik-turunnya mengikuti gerakan tangan sehingga kita bisa tahu emosinya,” jelas Umi.

Ia memberikan warna-warna yang merefleksikan emosi seperti biru, merah, hijau, dan sebagainya. Emosi-emosi ini, menurutnya, saling berkisambungan. Menurut dia arti warna tersebut layaknya kehidupan. “Kehidupan pasti ada yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan, untuk menyikapinya perlu mempertimbangkan emosi,” ujar dia.

Berbeda lagi dengan yang dibawa oleh Rendra Aditya Putra Adam. Ia memamerkan batik yang terinspirasi dari kawasan di Surabaya. “Yakni kawasan Jalan Praban, Tunjungan, Kembang Jepun, dan Kayoon. Saya ingin memperkaya batik Surabaya. Selama ini kan yang diketahui hanya suro, boyo, dan semanggi,” jelas Rendra.

Dalam motif Praban misalnya, ia mengangkat sosok Mbok Rondo Praban Kinco yang merupakan ibu dari Joko Jumput. Ia digambarkan tengah meracik jamu. “Di sini juga ada motif-motif rempah. Semuanya saya buat sendiri. Tantangannya mungkin saat proses penyantingan,” kata Rendra. (gin/nur)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP