alexametrics
Jumat, 16 Apr 2021
radarsurabaya
Home > Gresik
icon featured
Gresik

Covid Masih Tinggi, SMA/SMK di Jatim Ragu Laksanakan PTM

05 Januari 2021, 10: 40: 42 WIB | editor : Wijayanto

BELUM DIIZINKAN: Simulasi pembelajaran tatap muka di SMK Negeri 6 Surabaya beberapa waktu lalu.

BELUM DIIZINKAN: Simulasi pembelajaran tatap muka di SMK Negeri 6 Surabaya beberapa waktu lalu. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Rencana pemerintah untuk menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) awal Januari sepertinya belum bisa terealisasi. Pasalnya, angka positif Covid-19 baik secara nasional maupun regional mengalami peningkatan signifikan. Hal ini membuat sejumlah SMA/SMK di Surabaya, mempertimbangkan dilakukannya PTM. 

Di SMAN 16 Surabaya, berdasarkan surat pemberitahuan nomor: 000/389/11.6.1.16/2020 pembelajaran semester genap mulai 4 Januari 2021 akan dilaksanakan secara daring. “Kami sudah membuat edaran untuk dua minggu ini akan dilaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sembari kita melihat situasi (Covid-19) di Jatim, khususnya Surabaya,” ujar Kepala SMAN 16 Surabaya, RA Roosdiantini, Senin (4/1).

Selama PJJ, pihaknya akan melakukan evaluasi terkait persiapan PTM. Hal itu pun akan dikoordinasikan dengan Pengurus Komite dan Satgas Covid-19 di lingkungan setempat. “Selama dua minggu ini kita juga mintai pendapat ke wali murid dan komite menggunakan melalui google form. Karena pelaksanaan PTM ini tergantung bagaimana orang tua mengizinkan putra putrinya untuk ke sekolah,” jelasnya.

Baca juga: Vaksin Fokus untuk Orang dengan Risiko Penularan Tertinggi

Kepala SMKN 12 Surabaya Biwara Sakti Pracihara mengatakan, pihaknya tetap menjalankan metode seperti yang berjalan selama ini, yakni PTM dan PJJ. Uji coba PTM di sekolahnya dibuka sejak 1 September. “Untuk mata pelajaran teori dilakukan secara daring. Sedangkan yang produktif harus dilakukan tatap muka,” katanya.

Praci menambahkan, PTM di sekolahnya menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Tapi siswa yang PTM harus mendapat izin dari orang tua secara tertulis. “PTM ini 25 persen dari jumlah seluruh siswa. Siswa hanya masik 2 kali pertemuan dalam seminggu. Sekali pertemuan hanya dua jam,” katanya.

Sedangkan Kepala SMAN 15 Surabaya Johanes Mardijono mengaku masih menunggu kabar dari Gubenur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Dinas Pendidikan Jatim. Jika ada izin untuk PTM maka akan dibuat polling kepada wali murid terkait rencana pembelajaran ini.  “Skenario pastinya satu minggu dilakukan PTM satu kali,” ungkapnya.

Johanes mengatakan, sudah pernah melakukan ujicoba PTM. Namun hanya untk kelas 12  dengan 12 rombel. “Jadi, setiap hari ada tiga kelas dibuat enam ruang. Kita juga membuat kelas yang khusus untuk live daring karena harus melayani siswa yang belajar melalui daring karena siswa tidak diizinkan orang tuanya untuk PTM,” katanya. 

Kebijakan yang sama pun dilakukan SMKN 2 Surabaya. Rencananya, PTM akan dilaksanakan pada 18 Januari, dengan melihat perkembangan kasus Covid-19 di Surabaya. “Jadi, sementara di pelaksanaan PJJ atau daring (4-16 Januari) ini kita akan siapkan betul untuk PTM tanggal 18 mendatang. Dengan melihat kondisi Covid-19, jika memang harus dilaksanakan PTM kemungkinan persentasenya 25-50 persen lihat kondisi sekolah,” jelas Kepala SMKN 2 Surabaya Djoko Pratmodjo.

Untuk PTM nantinya, Djoko mengatakan akan diprioritaskan untuk kelas 12 sebagai persiapan ujian. Sementara kelas 11 beberapa siswanya akan mengikuti magang secara bertahap.

Sementara itu, Pakar Pendidikan Jatim Prof Mohammad Nuh mengatakan pada prinsipnya, pelaksanaan PTM bukan pada hitungan bulan atau penetapan bulan Januari. Menurut dia, yang harus diperhatikan dan menjadi catatan adalah kesiapan beradaptasi dengan Covid-19.

“Jika Covid-19 masih merajalela tidak ada maknanya digelar PTM. Oleh karena itu, jangan dipaksakan PTM. Tapi pelajari dulu kemungkinannya. Kalau sudah mungkin oke laksanakan, tapi kalau belum memungkinan jangan dilakukan. Karena nantinya dikhawatirkan ada klaster baru. Sebaiknya banyak persiapan yang harus dimatangkan sekolah dan pemerintah, terutama dalam menghadapi pandemi Covid-19,” paparnya. (mus/opi/rek)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP