alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarsurabaya
Home > Gresik
icon featured
Gresik

Masa Depan Kendaraan Listrik di Indonesia

02 Desember 2020, 16: 06: 20 WIB | editor : Wijayanto

WEBINAR: Ir. Jisman P. Hutajulu M. M., Direktur Program Ketenagalistrikan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementrian ESDM menjelaskan potensi kendaraan listrik di Indonesia dalam webinar kerjasama UISI dan Unair.

WEBINAR: Ir. Jisman P. Hutajulu M. M., Direktur Program Ketenagalistrikan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementrian ESDM menjelaskan potensi kendaraan listrik di Indonesia dalam webinar kerjasama UISI dan Unair. (ISTIMEWA)

Share this      

GRESIK - Mobil listrik telah umum diproduksi dan digunakan di negara maju. Sedangkan di Indonesia, sebagian besar transportasi masih menggunakan bahan bakar fosil terutama minyak bumi. Dimana Indonesia sendiri menghadapi permintaan tinggi terhadap minyak bumi dan bahkan harus mengimpor. Di sisi lain, harga kendaraan listrik cukup tinggi dengan fasilitas yang masih belum menunjang. Bagaimana masa depan kendaraan listrik ini?

Menjawab hal tersebut, Departemen Manajemen Rekayasa Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) berkolaborasi dengan Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga dan Energy Academy Indonesia menyelenggarakan webinar nasional yang bertajuk "National Economic Value of Electric Vehicle" pada hari Selasa (01/12) melalui Zoom meeting dan Live Youtube.

Webinar ini membahas secara tuntas mengenai potensi pengembangan kendaraan listrik untuk mendukung perekonomian Indonesia, potensi pengembangan teknologi tenaga listrik secara umum sebagai fasilitas untuk mendukung kendaraan listrik, dan strategi yang dilakukan untuk meningkatkan efektifitas pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) serta kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk mendorong pertumbuhan industri kendaraan listrik di Indonesia.

Baca juga: Belajar dari Proses Perdamaian di Afghanistan Bersama OIA UISI

"Adanya kendaraan bermotor listrik ini dapat memberikan dampak positif terutama pada perekonomian negara," papar Ir. Jisman P. Hutajulu M. M., Direktur Program Ketenagalistrikan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementrian ESDM.

Di tahun 2030 kebutuhan gasoline berkisar sebesar 840 ribu Barel Oil Per Daya (BOPD), tanpa adanya perubahan kebijakan maka dibutuhkan impor sekitar 570 ribu BOPD.

Dengan demikian perlu adanya pengurangan impor gasoline diantaranya yaitu dengan cara peningkatan produk kilang, penambahan kendaraan listrik, pemanfaatan biofuel, dan pemanfaatan bahan bakar gas. Dengan keempat program tersebut, maka mulai tahun 2030 akan terjadi zero import BBM dan kelebihan diesel sekitar 790 ribu BOPD. Jisman mengatakan pertumbuhan kendaraan listrik ini akan mengurangi ketergantungan akan minyak bumi.

Sementara itu dosen Ilmu Ekonomi UNAIR, Dr. Ni Made Sukartini memaparkan mengenai pengembangan mobil listrik di Indonesia. "Pemerintah dapat memberikan insentif untuk menunjang program konversi ke kendaraan listrik baik fiskal maupun non fiskal," papar Ni Made. 

Insentif fiskal seperti keringanan bea masuk dan keringanan pajak. Sedangkan non fiskal seperti pengecualian dari pembatasan penggunaan jalan, pelimpahan hak produksi terkait teknologi kendaraan listrik, dan pembinaan keamanan kegiatan operasional sektor industri.

Ni Made juga menyoroti mengenai dampak emisi dari kendaraan listrik yang sebenarnya masih bersumber dari pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar fosil.

Sedangkan dari aspek teknologi, Alief Wikarta PhD, Dosen Teknik Mesin ITS menjelaskan mengenai kemampuan dari baterai mobil listrik. " Bahkan ada jenis mobil listrik yang sekali isi bisa digunakan untuk 500 km, ibarat Surabaya- Jakarta tanpa berhenti untuk charge," ungkap Alief.

Pengisian kendaraan listrik ini memang menjadi hal yang disoroti karena untuk sekali pengisian bisa membutuhkan waktu berjam-jam tanpa fast charging. Mengatasi hal ini, Alief mencontohkan teknologi stasiun kendaraan listrik di Taiwan, dimana disana disediakan baterai yang telah terisi penuh. Jadi tidak perlu menunggu berjam-jam, cukup tukar baterai dan berangkat.

Start Up di Taiwan ini dinilai berhasil karena pada tahun 2018 bisa melayani penukaran baterai sampai 300 ribu kali. Akankah kendaraan listrik di masa depan akan berjaya di Indonesia? (*/jay)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP