alexametrics
Minggu, 24 Jan 2021
radarsurabaya
Home > Features
icon featured
Features

Lantik Pengurus Pusat JMSI, Bamsoet Ingatkan Bahaya Hoax

25 November 2020, 20: 36: 16 WIB | editor : Wijayanto

PENGUKUHAN: Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (kanan) menyerahkan pataka kepada Ketua JMSI Pusat Teguh Santosa disaksikan para pengurus JMSI.

PENGUKUHAN: Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (kanan) menyerahkan pataka kepada Ketua JMSI Pusat Teguh Santosa disaksikan para pengurus JMSI. (ISTIMEWA)

Share this      

JAKARTA - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menaruh harapan besar kehadiran Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) akan semakin melengkapi berbagai entitas kelembagaan pers yang telah lahir sebelumnya. Seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI).

"JMSI yang dideklarasikan pada 8 Februari 2020 di Banjarmasin, lahir dari keinginan kuat para pengelola media siber di berbagai daerah untuk membangun ekosistem pers yang sehat dan profesional. Tujuan dan niat mulia tersebut patut didukung oleh segenap pemangku kepentingan, terutama para insan pers," ujar Bamsoet –sapaan Bambang Soesatyo- saat mengukuhkan Pengurus Pusat (PP) JMSI periode 2020-2025 di Gedung Dewan Pers Jakarta, Rabu (25/11/20).

Ketua DPR RI ke-20 yang juga insan jurnalis ini meyakini, pers sehat yang menyajikan informasi secara akurat, objektif, dan berimbang, pada gilirannya akan mendorong terwujudnya masyarakat yang sehat. Yaitu masyarakat yang 'melek' pengetahuan dan bijak dalam menyikapi informasi. 

"Hadirnya pemberitaan yang sehat juga dapat menjadi penyeimbang sekaligus filter atas masih maraknya informasi menyesatkan yang begitu mudah tersebar melalui berbagai platform media sosial. Baik yang bersifat misinformasi, disinformasi, maupun malinformasi," tandas Bamsoet.

Calon Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini memaparkan, sebagai gambaran, Kementerian Kominfo mencatat hingga 20 Oktober lalu, terdapat 2.020 konten infodemik, yaitu informasi menyesatkan/hoax terkait pandemi Covid-19 yang beredar di media sosial. Sedemikian berbahayanya infodemik tersebut, hingga membuat Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, memberi peringatan keras. 

"Infodemik dinilai bisa lebih berbahaya dari virus Covid-19 itu sendiri. Karena, informasi menyesatkan yang demikian cepat menyebar, menjadikan publik kesulitan mengidentifikasi hal yang benar dan salah. Sehingga menyikapi dan menindaklanjuti informasi tersebut dengan cara yang juga salah," papar Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menambahkan, pandemi Covid-19 juga telah berdampak pada semua sektor kehidupan. Tidak terkecuali dunia jurnalistik dimana pandemi berdampak nyata bagi bisnis media yang pada akhirnya juga bermuara pada kesejahteraan jurnalis. 

"Dengan berbagai keterbatasan gerak dan berbagai tantangan yang dihadapi, saya sangat berharap insan media tetap mengedepankan profesionalisme, menyajikan muatan pemberitaan yang mencerdaskan, dan memprioritaskan kepentingan publik," pungkas Bamsoet. (jpg)

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP