alexametrics
Kamis, 26 Nov 2020
radarsurabaya
Home > Hukum & Kriminal Surabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Mahasiswa Pembunuh Pemijat Panggilan Dituntut 13 Tahun Penjara

21 November 2020, 02: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

MENYESAL BELAKANGAN: Terdakwa Yusron diadili di ruang Candra PN Surabaya.

MENYESAL BELAKANGAN: Terdakwa Yusron diadili di ruang Candra PN Surabaya. (GINANJAR ELYAS SAPUTRA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Yusron Virlangga dituntut pidana 13 tahun penjara oleh Jaksa penuntut umum (JPU) Ugik Ramantyo. Jaksa Ugik menyatakan mahasiswa salah satu kampus negeri di kawasan Lidah itu terbukti membunuh Octavia Widiyawati seorang terapis atau pemijat panggilan asal Wonokromo, Surabaya.

Perempuan yang akrab disapa Monic itu ditemukan tewas di rumah kontrakan yang ditempati Yusron di Jalan Lidah Kulon pada 16 Juni lalu. 

"Menuntut agar majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini menyatakan terdakwa terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana dengan sengaja merampas nyawa orang lain," ujar jaksa Ugik dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Yusron dinyatakan oleh jaksa terbukti melanggar Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan. Pertimbangan yang memberatkan, perbuatan terdakwa yang berusia 20 tahun itu sudah menghilangkan nyawa terapis pijat tersebut. Sementara itu, pertimbangan yang meringankan, terdakwa bersikap sopan selama persidangan. Selain itu, pemuda tersebut juga mengakui serta menyesali perbuatannya.

Menanggapi tuntutan ini, pengacara Yusron, Frendika S Utama berharap agar majelis hakim menjatuhkan putusan yang lebih ringan. Tim pengacara akan mengajukan pembelaan dalam sidang pekan depan. Menurut dia, kliennya sudah mengakui perbuatannya dan sepatutnya diberikan keringanan hukuman.

"Terdakwa selama ini sudah bersikap kooperatif. Pembunuhan itu tidak direncanakan. Dia spontan karena panik setelah korban berteriak-teriak," katanya.

Sebagaimana diberitakan, pembunuhan itu terjadi setelah Monic meminta uang tip jasa pijat Rp 300 ribu. Monic sempat menolak pembayaran Rp 950 ribu dari terdakwa yang sudah disepakati. 

Tiba-tiba Monic meyulutkan korek api ke tangan kiri Yisron ketika hendak menyerahkan Rp 950 ribu. Terdakwa menarik kembali uang yang akan diserahkannya setelah kesakitan. 

Keduanya terlibat cekcok, dan Monic terus berteriak meminta uang hingga terdakwa panik. Terdakwa yang semakin panik, kemudian menusuk leher Monic dengan pisau hingga tewas. Mayat terapis berusia 36 tahun itu dimasukkan ke dalam kardus kulkas. Terdakwa sempat berupaya membakar mayat untuk menghilangkan jejak. Hingga akhirnya dia kabur ke rumah bibinya di Mojokerto. (gin/jay)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP