alexametrics
Kamis, 26 Nov 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Produksi Ikan Jatim Tak Terpengaruh Pandemi Covid 19

20 November 2020, 23: 27: 26 WIB | editor : Wijayanto

GEMARIKAN: Pengunjung melihat produk perikanan dan olahannya saat pameran di halaman kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur beberapa waktu lalu.

GEMARIKAN: Pengunjung melihat produk perikanan dan olahannya saat pameran di halaman kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur beberapa waktu lalu. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur Mohammad Gunawan Saleh mengatakan, produksi ikan pada masa pandemi Covod-19 tidak terpengaruh signifikan. Hanya saja menurutnya kendalanya pada pemasaran dan ekspor.

"Produksi kita pada triwulan I hingga triwulan III sebanyak 1,29 juta ton dibandingkan tahun kemarin 1,28 juta ton. Ini artinya pandemi Covid-19 tidak berpengaruh sama sekali," ujarnya, Jumat (20/11).

Gunawan mengatakan, memang ada penurunan pada pemasaran sekitar 20 persen. Hal yang sama juga terjadi pada ekspor. "Saat ini ekspor yang kita lakukan hanya 340 ribu ton dibanding tahun sebelumnya 380 ribu ton. Meski demikian, dari segi nilai lebih tinggi sekarang. Kalau tahun lalu USD 1,6 miliar. Tahun ini USD 2,5 miliar," jelasnya.

Untuk menyikapi pandemi Covid-19, Gunawan mengaku memberikan fasilitasi akses permodalan kepada UMKM yang bergerak pada bidang kelautan dan perikanan. Diungkapkannya, anggaran yang disalurkan sekitar Rp 39,47 miliar. "Selain itu kami juga memberikan stimulan produk ikan air tawar dengan kampanye Gemar Makan Ikan (Gemarikan)," katanya.

Menurutnya, sebanyak 11,4 ton ikan air tawar yang dikelola masyarakat dibeli lalu kemudian dibagikan lagi kepada masyarakat. Dengan demikian sering mengonsumsi ikan maka akan menambah imun. "Selain itu juga akan mencegah stunting," tuturnya.

Gunawan mengatakan, pihaknya akan membantu pelaku usaha UMKM terkait dengan proses izin usaha, sertifikasi  dan proses administrasi lainnya. Seperti Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) dan sertifikasi halal. "Ini sesuai dengan program pemulihan ekonomi nasional," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Jawa Timur Arumi Bachsin mengatakan, saat ini pihaknya aktif mengkampanyekan Gemarikan di Jatim. Tujuan besar peningkatan konsumsi ikan adalah untuk perbaikan kualitas hidup masyarakat dari usia nol sampai dengan lanjut usia (lansia).

“Ada dua tujuan utama yang ingin dicapai melalui Gemarikan. Yang pertama adalah perlindungan kesehatan masyarakat dari Covid-19 yakni peningkatan daya tahan dan imunitas tubuh. Sedangkan tujuan yang kedua adalah penekanan angka stunting yang masih tercatat tinggi di Jatim,” ujar Arumi

Istri Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak ini menambahkan, mengonsumsi ikan merupakan salah satu bentuk pemenuhan kebutuhan makanan bergizi dan seimbang yang tentunya akan berimbas kepada meningkatnya kualitas hidup. Khususnya pada sektor kesehatan. Dengan harga ikan yang terjangkau, Arumi meyakini bahwa hal ini bisa menjadi pilihan terbaik dalam pemenuhan gizi masyarakat.  “Ikan adalah salah satu solusi terbaik. Kandungan lemak yang ada pada ikan terbukti lebih baik dari pada daging merah. Untuk itu, masyarakat diharapkan bisa menjadikan daging ikansebagai pengganti asupan protein yang lebih terjangkau. Kalau lemak pada ikan membawa kebaikan, kalau lemak pada daging membawa kolesterol,” paparnya.

Arumi mengatakan, ikan yang dikonsumsi tidak perlu mahal. Banyak jenis ikan dengan harga terjangkau tapi nilai gizinya tinggi. Menurutnya, ikan patin sebagai pilihan paling terjangkau untuk memenuhi kandungan lemak jika dibandingkan dengan kandungan lemak pada ikan salmon yang lebih mahal.

“Dengan begitu, maka rutin mengonsumsi ikan tidak akan membebani keuangan keluarga. Kita dapat memilih jenis ikan mana yang cocok dengan kantong kita, tapi kandungan gizinya sangat baik, sehingga dapat mencegah stunting,” katanya.

Menurut Arumi, pencapaian angka konsumsi ikan di Jatim tahun 2019 masih 38,82 kilogram (kg) per kapita per tahun. Jika dibandingkan dengan negara-negara dengan penduduk produktif, angka konsumsi ikan tergolong masih rendah. “Maka dari itu, masih perlu upaya yang lebih masif untuk meningkatkan konsumsi ikan,” pungkasnya. (mus/opi)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP