alexametrics
Kamis, 26 Nov 2020
radarsurabaya
Home > Hukum & Kriminal Surabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Penanam Ganja di Rumah Dihukum Enam Tahun

19 November 2020, 10: 27: 34 WIB | editor : Wijayanto

KETAHUAN: Aldian Aldiano yang menanam ganja hidroponik di rumahnya di Wisma Lidah Kulon.

KETAHUAN: Aldian Aldiano yang menanam ganja hidroponik di rumahnya di Wisma Lidah Kulon. (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Aldian Aldiano menanam 27 pohon ganja secara hidroponik di Wisma Lidah Kulon. Ia berdalih menggunakan ganja untuk mengobati penyakit kejang-kejang yang dideritanya.

Di Pengadilan Negeri Surabaya, argumentasi terdakwa Aldian agar terbebas dari jerat hukum dipatahkan majelis hakim. Pria 21 tahun itu divonis enam tahun penjara. Sebelumnya terdakwa yang akrab disapa Dino itu dituntut pidana selama sembilan tahun.

Hakim Dede Suryaman menyatakan terdakwa bersalah melanggar pasal 111 ayat 2 Undang-Undang Narkotika.

Menurut hakim, Aldian tidak berhak menanam ganja untuk penelitian karena profesinya bukan akademisi, melainkan seniman tato. Hakim juga menepis klaim Aldian bahwa ganja bisa dipakai untuk mengobati sakit kejang-kejang.

"Alasan terdakwa tidak didukung data yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah," kata Hakim Dede.

Terdakwa Aldian digerebek di Wisma Lidah Kulon Blok A Nomor 95 pada 27 Februari lalu. Polisi menyita 27 pohon ganja di pot hidroponik. Terdakwa awalnya membeli delapan tanaman ganja dengan usia tiga bulan dari Haris di Malang. 

Nah, upaya percobaan untuk membudidayakan tanaman ganja itu ternyata berhasil. "Saya pakai untuk mengobati sakit epilepsi dan kejang-kejang yang saya derita," katanya.

Yang menarik, saat masih disidang di PN Surabaya, Aldian melayangkan permohonan uji material terhadap pasal 111 dan pasal 114 Undang-undang (UU) Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika di Mahkamah Konstitusi (MK). Lewat penasihat hukumnya, Singgih Tomi Gumilang, ia mempertanyakan definisi dari pohon ganja.

"Sebab, 27 batang tanaman ganja klien saya itu tingginya rata-rata tiga hingga 40 sentimeter," katanya.

Menurut Singgih, kliennya terpaksa menanam ganja karena mempunyai riwayat epilepsi. Ganja yang ditanam itu hanya dikonsumsi untuk dirinya sebagai obat penyakitnya. Khususnya saat merasa kejang-kejang.

"Sebenarnya dia punya penyakit epilepsi atau kalau tidur itu suka kejang-kejang. Nah, itu mengganggu orang yang ada di sebelahnya. Jadi, klien saya itu akan terkontrol kejangnya saat menggunakan ganja," katanya.

 Setelah persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Muhammad Nizar mengaku masih akan melaporkan hasil putusan perkara ini ke pimpinannya. "Tuntutan kami sembilan tahun. Jadi, kami akan laporkan dulu ke pimpinan untuk langkah selanjutnya,” kata Nizar. (gin/rek)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP