alexametrics
Kamis, 26 Nov 2020
radarsurabaya
Home > Lifestyle Surabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Manfaatkan Bahan dari Lingkungan, Batik Ecoprint Banyak Peminat

19 November 2020, 07: 43: 25 WIB | editor : Wijayanto

BATIK ECOPRINT: Wahyu Iriani menunjukkan kain batik ecoprint karyanya di workshop di kawasan Perumahan Dosen  ITS, Sukolilo, Surabaya, Rabu (18/11).

BATIK ECOPRINT: Wahyu Iriani menunjukkan kain batik ecoprint karyanya di workshop di kawasan Perumahan Dosen ITS, Sukolilo, Surabaya, Rabu (18/11). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Pada umumnya membatik menggunakan teknik canting atau cetakan untuk menghasilkan gambar yang diinginkan. Namun tidak demikian dengan Wahyu Iriani. Perempuan paro baya ini menggunakan teknik eco printing untuk menghasilkan ukiran batik.

Perempuan kelahiran Tulungagung, 20 Februari 1968, ini sudah sejak dua tahun terakhir membuat kerajinan batik dengan teknik eco printing. Menurutnya, batik eco printing saat ini sudah mulai banyak peminatnya. Bukan hanya di dalam negeri, namun juga di luar negeri.

Uniknya, batik eco printing yang ia buat selama ini tidak menggunakan pewarna kimia. Namun menggunakan bahan alami sebagai pengganti. “Kami sama sekali tidak menggunakan bahan kimia, karena bahan pewarna alami lebih bagus digunakan,” kata Iriani saat ditemui di rumahnya di Jalan Teknik Industri D-20, Perum Dosen ITS, Keputih, Sukolilo, Surabaya, kemarin (18/11).

Sebelum mulai membatik, Iriani mempersiapkan terlebih dulu bahan-bahan yang diperlukan. Di antaranya, pewarna alami dari potongan kayu mahoni, jelawe, tingi, bubuk green tea, tunjung, dan lainnya. Selain itu, ia juga menyiapkan dedaunan atau bunga yang nantinya dijadikan ukiran batik di media kain sutra atau katun.

“Daunnya kita cari di lingkungan sekitar. Seperti daun ketepeng, tabebuya, jambu biji, daun jati muda, dan bisa juga daun jarak. Kadang saya cari daun jati di sekitar kampus ITS atau beli lewat online,” ujar Iriani.

Ia menjelaskan bahwa pemilihan daun harus dilakukan dengan hati-hati. Seperti daun jati yang bagus digunakan sebagai batik eco printing adalah daun jati muda. Karena daun jati muda lebih mudah dibentuk dan warnanya akan bagus. “Paling diminati ya daun jati ini, karena lebih bagus. Selain bagus, harganya lebih mahal. Kalau full motif daun jati harganya semakin melonjak,” ucapnya.

Untuk prosesnya, kain utama yang akan digunakan membatik sebelumnya dilakukan perendaman semalam kurang lebih selama delapan jam. “Air rendaman itu dicampur pakai cuka, tawas dan soda agar nanti warna yang dihasilkan tidak luntur,” tuturnya.

Kemudian, media kain kedua yang digunakan untuk batik direndam ke dalam air campuran pewarna alami. Setelah itu, proses berikutnya menata daun di kain utama seusai direndam selama semalam. “Setelah ditata, kain utama tadi ditutup menggunakan blanket (kain kedua, red). Setelah itu ditutup plastik,” paparnya.

Proses terakhir, Iriani menutup kain tersebut kemudian menggulungnya dan dimasukkan ke paralon atau kayu. “Setelah itu di kukus selama dua jam, kemudian tinggal didinginkan dan dijemur hingga kering. Jadilah batik dengan teknik eco printing,” tandasnya. (gin/jay)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP