alexametrics
Kamis, 26 Nov 2020
radarsurabaya
Home > Ekonomi Surabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Optimis Hadapi Pandemi, REI Ajak Developer Ubah Mindset

23 Oktober 2020, 16: 38: 01 WIB | editor : Wijayanto

RUMAH BARU: CitraLand Driyorejo CBD yang dikembangkan Ciputra Group  banyak menyasar market  end user, terutama dari kalangan milenial. Market properti  segmen middle sejauh ini masih bagus penjualannya di tengah pandemi Covid-19.

RUMAH BARU: CitraLand Driyorejo CBD yang dikembangkan Ciputra Group banyak menyasar market end user, terutama dari kalangan milenial. Market properti segmen middle sejauh ini masih bagus penjualannya di tengah pandemi Covid-19. (ABDULLAH MUNIR/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Pandemi Covid-19 membuat pasar properti terkoreksi cukup tajam. Namun begitu masih banyak celah yang bisa digarap developer. Sebab, tidak semua properti menurun. Justru produk untuk segmen middle mengalami peningkatan demand.

Menurut Totok Lucida, Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI), sebelum pandemi, pasar properti dibagi dua saja, yakni non-subsidi dan subsidi. Setelah ada pandemi, market properti terbagi menjadi tiga, yakni subsidi, non-subsidi dengan harga di bawah Rp 1,5 miliar dan non- subsidi di atas Rp 1,5 miliar.

“Sekarang yang paling terdampak itu properti non-subsidi dengan harga Rp 1,5 miliar up. Ini yang paling besar terkena dampak pandemi,” kata Totok Lucida.

Sementara market properti kelas middle dengan range harga antara Rp 400-an juta hingga Rp 1,5 miliar, justru mengalami kenaikan yang luar biasa. Bahkan, penjualanya selama kuartal III/2020 naik hingga 100 persen.

Hal ini menunjukan bahwa sebenarnya peluang pasar masih ada. Sebab, yang membutuhkan rumah masih banyak. Hanya saja mereka akan menyesuaikan kemampuan daya belinya. Bahkan, di Jakarta ada proyek tiga kluster langsung habis dalam waktu singkat. “Sekarang banyakn orang membeli rumah semampunya dulu sambil bagaimana bisa mempertahankan hidup atau bisnisnya,” tambahnya.

Sementara untuk rumah sederhana, juga mengalami penurunan market sekitar 20-30 persen hingga kuartal III/2020. Hal ini dipicu karena banyak pekerja yang di-PHK atau dirumahkan. Sehingga pendapatan mereka berkurang. “Sekarang banyak juga yang sudah membayar booking fee, namun tidak bisa realisasi. Mereka minta untuk ditunda. Namun, perbankan sekarang juga semakin ketat filternya,” ujarnya.

Sebab itu, pihaknya meminta agar perbankan sedikit melonggarkan kembali kebijakannya. Sehingga mereka yang terdampak pandemi bisa melakukan KPR-nya. Sementara developer juga untuk mengubah mindset-nya agar semakin aktif melakukan pameran secara online.

“Sekarang kami terus melakukan sosialisasi agar teman-teman developer mengubah mindset-nya. Digital market harus digarap maskimal. Pameran-pameran online harus sering dilakukan kalau bisa setiap bulan,” tandas Totok Lucida.  

Perbankan Optimistis Bisa Tingkatkan Penyaluran KPR

Sementara itu, menjelang tutup tahun, kalangan perbankan masih optimis untuk bisa menggenjot kinerjanya dengan menawarkan paket KPR berbunga ringan. Bahkan, untuk menjaring konsumen, bank juga mengadakan pameran bekerja sama dengan kalangan developer.

Menurut Indardi Wahyudi, VP Consumer Loan Regional 8 Jawa 3 Bank Mandiri, hingga kuartal III/2020, kondisinya sudah mulai membaik. Namun, dia enggan menyebutkan berapa persen pencapaian dari target tahunan yang ditetapkan. “Hingga kuartal ketiga, kondisinya masih bagus,” kata Indardi Wahyudi.

Dia mengaku masih optimis bisa memaksimalkan sisa waktu hingga akhir tahun nanti. Sebab itu, pihaknya akan semakin aktif untuk menawarkan berbagai program menarik untuk para kastamernya,  khususnya program KPR.

Saat ini, bank plat merah itu gencar menawarkan program KPR bunga ringan, yakni 5,99 persen fixed tiga tahun dan bunga 8.88 persen fixed  10 tahun. Dia yakin dengan program menarik ini akan banyak konsumen yang terjarng.

Apalagi pihaknya juga melakukan kerja sama dengan banyak developer skala besar, seperti Ciputra Group, Pakuwon Group, Sinar Mas Group dan developer lainnya. Developer besar memiliki sejumlah proyek dengan target market yang beragam. “Kami juga promo di market place seperti Bukalapak. Kami juga promo business to business dengan rekananan Bank Mandiri lewat program PEN Top Up Multiguna,” tandasnya.

Bahkan, untuk mendongkrak kinerjanya, pihaknya juga melakukan pemeran online dengan meggandeng sekitar 50 developer. Pameran sejak sejak September hingga akhir Oktober nanti mendapat respons  cukup bagus. “Kami akan bikin pameran lagi tapi offline. Rencananya awal tahun depan,” tandasnya.

Sementara itu, Rudy Harsono, Kepala Kantor Kredit Konsumen BCA Surabaya beberapa waktu lalu mengatakan, pihaknya terus melakukan restrukturisasi terhadap konsumen. Harapannya agar tidak ada kredit macet karena pandemi.

Selain itu, pihaknya juga mengadakan pameran online pada 9 September hingga 10 Oktober 2020 lalu. Expo tersebut didukung 67 developer dengan 200 proyek, dimana dari Surabaya ada 20 developer dengan 67 proyek. Pihaknya juga menawarkan suku bunga murah 5,88 persen fixed tiga tahun dan 6,88 persen fixed lima tahun.

“Semester pertama menurun karena pandemi. Kami ada sinergi dengan developer. Sehingga kami bisa mencapai pertumbuhan KPR dan developer bisa meningkatkan penjualannya,” kata Rudy Harsono. (fix/opi)



(sb/fik/jay/JPR)

 TOP