alexametrics
Sabtu, 31 Oct 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Vaksin Merah Putih untuk Jangka Menengah

Unair Tunggu Arahan BIN dan TNI AD

16 Oktober 2020, 14: 40: 58 WIB | editor : Wijayanto

Rektor Unair Prof M Nasih (kiri)

Rektor Unair Prof M Nasih (kiri) (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA - Universitas Airlangga (Unair) kini fokus kepada obat dan vaksin merah putih. Pasalnya, obat dan vaksin merah putih tersebut digunakan untuk jangka menengah dalam penanganan Covid-19.

Rektor Unair Prof Nasih mengatakan, saat ini untuk obat tersebut mendekati final dan uji ke manusia. Namun, prosesnya sangat panjang. Itu semua masih relevan ketika nantinya vaksin sudah ditemukan.  "Insya Allah, lebih baik dibanding obat yang kita uji dalam beberapa bulan ke depan keluar izinnya," kata Nasih.

Nasih menjelaskan, obat baru untuk jangka menengah sekarang mendekati final. Hanya tinggal berapa langkah lagi menghadapi uji klinis proses berikutnya. Sebelumnya Unair juga sudah menyiapkan kombinasi obat sejak Agustus lalu dan menyampaikan ke BPOM. Hingga saat ini Unair masih menunggu tanggapan dari BPOM.

"Cuma yang kita dengar sepertinya BPOM dan pemerintah fokusnya lebih banyak ke vaksin. Artinya, kalau obat kombinasi yang akan kita proses untuk di klinis ini relevansinya menjadi berkurang. Karena fokus yang sangat dalam ke vaksin. Nampaknya pemerintah terpecah konsentrasinya ke satu hal saja," jelasnya.

Karena itu, pihaknya sedang merancang skenario obat kombinasi untuk jangka pendek, sedangkan untuk jangka menengah obat baru dan vaksin merah putih. Vaksin merah putih mengalami pengembangan yang pesat. "Sisi lain di RSUA dilakukan uji klinis, termasuk untuk vaksin di Oxford University yang sekarang masih berjalan," katanya.

Sebelumnya ada lima kombinasi obat Covid-19 yang diteliti Universitas Airlangga (Unair). Tiga di antaranya telah melalui uji klinis. Ketiga kombinasi obat itu ialah lopinavir-ritonavir-azithromycin, lopinavir-ritonavir-doksisiklin, dan hidroksiklorokuin-azithromycin. Dari tiga kombinasi obat tersebut, ada satu yang direkomendasikan Kementerian Kesehatan untuk menangani pasien Covid-19.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) juga merekomendasikan obat tersebut. "Jadi, bukan kita hentikan (obat kombinasi), tapi perlu konsentrasi pembiayaan misalnya bahan beli obat anggarannya yang tidak  sedikit. Tapi ketika diproduksi saat ini relevansinya berkurang," ucapnya.

Pihak Unair juga sedang menunggu arahan dari BIN dan TNI Angkatan Darat. "Kami laporan ke pemberi pekerjaan, yakni BIN dan TNI AD,"  pungkasnya. (rmt/rek)

(sb/rmt/jay/JPR)

 TOP