alexametrics
Sabtu, 31 Oct 2020
radarsurabaya
Home > Iso Ae
icon featured
Iso Ae

Waktu Pacaran Sabarnya Bukan Main, Begitu Nikah Kasarnya Bukan Main

16 Oktober 2020, 01: 45: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: JUJUK KHARISMA)

Share this      

Ingat ya, pernikahan itu tidak seperti masa pacaran. Yang semuanya tampak indah. Jadi, siapkan mental sebaik mungkin sebelum memutuskan untuk menikah.

Ginanjar Elyas Saputra-Wartawan Radar Surabaya

Kalimat pembuka di atas bukan untuk menakut-nakuti, ya. Justru untuk mengingatkan bahwa masing-masing kita harus benar-benar siap lahir dan batin jika ingin menikah. Supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti yang dialami Donwori, 28, dan Karin, 26.

Keduanya pacaran sudah cukup lama. Sejak awal kuliah hingga lulus dan masing-masing mendapatkan pekerjaan yang layak.

Selama pacaran, Karin mengakui jika Donwori adalah pria yang pantas mendapatkan acungan dua jempol. Bahkan, kalau ada jempol-jempol yang lain, Donwori sangat layak untuk menerima acungannya.

Selain ganteng dan gagah, Donwori juga baik, penyabar, penyayang, pengertian, humble, tidak gampang marah, setia serta tidak pelit. Pokoknya, semua hal baik ada di Donwori. “Ya, karena saking baiknya itu saya mau dinikahi,” kata Karin.

Tapi kebaikan itu ternyata hanya bertahan di satu tahun  pernikahan saja. Masuk tahun kedua, semua mulai terkikis. Semakin bertambah usia pernikahan, kian  hilang. Donwori mulai sering marah, mulai perhitungan, mulai gak sabaran, kasar dan seterusnya. “Bener-benar bikin heran. Dia seperti bukan orang yang tak kenal. Banyak yang berubah,” lanjutnya.

Tapi, Karin hadapi semua itu dengan kepala tegak. Karena ia merasa bahwa Donwori adalah laki-laki pilihannya. “Risiko ditanggung penumpang,” sambungnya dengan muka sinis.

Kini, di pernikahan ke tiga, Karin mengaku sudah gak sanggup. Ia akan segera mengibarkan bendera putih dengan mendaftarkan gugatan perceraiannya ke Pengadilan Agama (PA) Klas IA Surabaya.

Pasalnya, keinginan Karin itu ternyata tidak klop dengan kemauan Donwori. Donwori kekeh tak mau menceraikan Karin.

Sebenarnya masalah-masalah yang sering menimbulkan pertengkaran adalah hal-hal klasik. Misalnya, soal anak atau pekerjaan sehari-hari. “Dia (Donwori, Red) lebih memilih main game online ketimbang ngemong anake. Padahal, kerjaanku akeh. Sekali-sekali yo kepingin suami mbantu urusan omah,” curhat Karin.

Dasarnya sudah maniak game, disenggol sedikit saja Donwori sudah emosi. Apalagi kalau kalah, malah makin muntab amarahnya.  “Dulu kalau disenggol saat ngegame, biasa saja. Dia nggak sampai marah-marah kayak sekarang. Baru ketahuan setelah nikah ini, sudah punya anak nggak malah pengertian,” kata Karin dengan nada jengkel.

Rasa sungkan juga tidak ada dalam diri Donwori. Tinggal bersama mertua malah membuatnya bertindak semaunya sendiri. “Ibu saya nggak berani ngingatkan, karena nggak enakan. Takut menantunya tersinggung,” jelasnya.

Dalam posisi serba salah itu, Karin meminta pertimbangan pada kedua orang tuanya untuk meminta solusi terbaik. Pada akhirnya, perceraianlah menjadi jalan terbaik di antaranya keduanya. “Sudah nggak bisa lagi dipertahankan kalau punya suami nggak ada rasa tanggung jawab seperti itu,” pungkasnya. (*/opi)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP