alexametrics
Minggu, 25 Oct 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya
Mengenal Sosok Kandidat Ketua MUI

KH Miftachul Akhyar Sosok Sederhana dan Berakhlak Mulia

15 Oktober 2020, 20: 27: 17 WIB | editor : Wijayanto

KH Miftachul Akhyar

KH Miftachul Akhyar (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA - KH Miftachul Akhyar tentu saja bukan nama baru di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Warga nahdliyin dan kalangan pesantren di Jawa Timur taka sing dengan nama kiai sepuh itu. Ia lahir dari tradisi dan melakukan pengabdian di NU sejak usia muda. Saat ini, beliau mengemban puncak kepemimpinan NU sebagai Penjabat Rais Aam. 

Kiai Miftah menggantikan KH Ma’ruf Amin dan Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya. Beliau adalah putra Pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah KH Abdul Ghoni. Ia lahir tahun 1953, anak kesembilan dari 13 bersaudara. 

Di NU, ia pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya 2000-2005, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur 2007-2013, 2013-2018, dan Wakil Rais Aam PBNU 2015-2020, yang selanjutnya didaulat sebagai Pj. Rais Aam PBNU 2018-2020 di Gedung PBNU, Jakarta, Sabtu (22/9). 

Menurut catatan PW LTNNU Jatim, genealogi keilmuan KH Miftachul Akhyar tidak diragukan lagi. Ia tercatat pernah nyantri di Pondok Pesantren Tambak Beras, Pondok Pesantren Sidogiri, Jawa Timur; Pondok Pesantren Lasem, Jawa Tengah; dan mengikuti Majelis Ta'lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al-Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia. 

Masih menurut Karomi, penguasaan ilmu agama KH Miftachul Akhyar ini membuat kagum Syekh Masduki Lasem sehingga ia diambil menantu oleh oleh kiai yang terhitung sebagai mutakharrijin (alumnus) istimewa di Pondok Pesantren Tremas. Kemudian KH Miftachul Akhyar mendirikan Pondok Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan mulai dari nol. 

Awalnya beliau hanya berniat mendiami rumah sang kakek, tetapi setelah melihat fenomena pentingnya "nilai religius" di tengah masyarakat setempat, maka mulailah beliau membuka pengajian.

Konon, kampung Kedung Tarukan terkenal sejak lama menjadi daerah yang tidak ramah pada dakwah para ulama.

Namun, berkat akhlak dan ketinggian ilmu yang dimiliki KH Miftachul Akhyar, beliau berhasil mengubah kesan negatif itu sehingga kampung yang "gelap" menjadi "terang dan sejuk" seperti saat ini dalam waktu yang relatif singkat. 

Kesederhanaan KH Miftachul Akhyar ini didapat dari ayahnya, KH Abdul Ghoni.  Ayah KH Miftachul Akhyar merupakan karib KH M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo saat sama-sama nyantri kepada Kiai Romli di Rejoso, Jombang.

Terlebih lagi saat sang ayah nyantri kepada Kiai Dahlan Ahyad Kebondalem sang pendiri MIAI dan Taswirul Afkar. (*)

(sb/gun/jay/JPR)

 TOP