alexametrics
Sabtu, 31 Oct 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Bertahan di Tengah Pandemi dengan Ternak Ulat Hong Kong

15 Oktober 2020, 12: 24: 03 WIB | editor : Wijayanto

KERJA HALAL: Ikhwanudin menunjukkan hasil ternak ulat Hong Kongnya di rumahnya di kawasan Dukuh Kupang Gang L

KERJA HALAL: Ikhwanudin menunjukkan hasil ternak ulat Hong Kongnya di rumahnya di kawasan Dukuh Kupang Gang L (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Di tengah pandemi seperti sekarang ini, pekerjaan apapun yang halal bakal dilakukan untuk bertahan. Seperti halnya yang dilakukan peternak ulat Hong Kong, Ikhwanudin, 35, warga Jalan Dukuh Kupang Gang Lebar, Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya.

Berawal dari iseng dan hobi memelihara burung kicau, Ikhwan kini meraup untung yang lumayan untuk memenuhi kebutuhan ekonminya sehari-hari setelah terdampak pandemi Covid-19. Mantan karyawan hotel yang telah berhenti bekerja itu kini banting stir menjadi peternak ulat Hong Kong rumahan.

“Ya awalnya iseng. Dulu saat kerja di hotel sempat peihara burung Murai Batu. Nah, burung itu saya kasih makan ulat. Lama kelamaan kok ada yang jadi kepompong, jadi banyak, sekalian saya ternakkan,” cerita Ikhwan soal awal mula usahanya.

Ikhwan mengaku kepompong dari ulat Hong Kong itu muncul ketika dirinya mulai sibuk bekerja di hotel. Sisa ulat yang dibelinya di pasar burung semakin hari semakin banyak. “Saya kira ini apa kok jadi semacam serangga kepik, ternyata larva ulat tersebut,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Rabu (14/10).

Setelah dirinya masuk dalam daftar pengurangan karyawan masal di tengah wabah corona, Ikhwan pun makin serius mempelajari trik beternak ulat Hong Kong di internet. Setelah mendapat ilmu yang cukup di dunia maya, Ikhwan mulai mepraktikkannya dengan membuat sejumlah wadah berukuran 40 cm x 60 cm dan tinggi 5 cm.

“Setelah jalan kok hasilnya lumayan. Saya habis di-PHK sekarang buka usaha ini malah untung. Padahal, awalnya saya hanya iseng saja lihat caranya di internet, ternyata banyak juga yang minat,” ujarnya.

Ikhwan membandrol ulat berbulu hitam itu dengan harga Rp 60 ribu – Rp 70 ribu per kg. Harga tersebut menurutnya disesuaikan dengan harga pasaran. Dirinya juga menjual secara online ke beberapa kicau mania di Surabaya. “Siapa yang butuh saya suruh ambil ke rumah. Selain itu saya juga jual beli burung. Asal halal saya lakukan. Yang minat selalu saya suruh datang ke rumah untuk nego-negoan,” paparnya.

Menurutnya, ternak ulat Hong Kong tidaklah rumit. Hanya butuh wadah kayu yang luas dan meletakkannya di ruangan yang bersuhu stabil. Karena akan berpengaruh pada kualitas ulat tersebut. Makanannya pun cukup diberi pur ayam dua hingga tiga kali sehari.

“Susah-susah gampang sebenarnya, apalagi di Surabaya yang panas begini. Masalahnya hanya suhu dan hama seperti cicak dan semut, itu bahaya bisa menghabiskan ulat,” tandasnya. (gin/jay)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP