alexametrics
Kamis, 26 Nov 2020
radarsurabaya
Home > Iso Ae
icon featured
Iso Ae

Sukses Jadi Anak, Gatot sebagai Suami

02 Oktober 2020, 01: 32: 58 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: JUJUK SUWANDONO)

Share this      

Tahun depan, Donwori dan Karin harusnya merayakan pernikahan mereka yang ke-8. Tapi, perayaan itu jelas tak nyata. Pernikahan mereka bubar jalan karena orang ketiga. Tapi, bukan karena ada WIL atau PIL. Lantas, karena apa? 

GINANJAR ELYAS SAPUTRA-Wartawan Radar Surabaya

Orang ketiga itu adalah Mira, 60, mertua perempuan Karin alias ibu Donwori. Ya, Anda sedang tak salah baca. Mira memang menjadi penyebab bubarnya pernikahan Donwori, 35, dan Karin, 32.

Seperti selilit, kala nyantol di gigi, ya bikin nggak nyaman. Harus benar-benar dibersihkan agar gigi sehat walafiat.

Ceritanya, Donwori menikahi Karin karena cinta. Tresno jalaran soko kulino, begitulah kira-kira kiasan yang pas untuk mengumpamakan hubungan asmara dua sejoli itu.

Donwori dan Karin bekerja di bidang yang sama, juga ngantor di gedung yang sama. Karena saking seringnya ketemu, keduanya saling kepincut. Setelah dua tahun pacaran, di 2011, keduanya menikah.

Perjalanan tiga-empat tahun pernikahan, lancar-lancar saja. Salah satunya tercermin dari unggahan Donwori maupun Karin di Instagram yang penuh rona gembira. Apalagi dengan lahirnya sepasang buah hati yang manis dan menggemaskan.

Karin pun nurut Ketika diminta Donowri resign dari pekerjaannya, dan fokus mengurus dua buah hati. “Semuanya indah, seindah-indahnya. Rasanya saya jadi perempuan paling beruntung dan bahagia di Surabaya,” curhat Karin.

Hingga pada suatu malam, sepulang kerja, Donwori memberitahu Karin kalua ibunya mau datang. Yang bikin heran Karin, Mira sudah biasa datang ke rumah, tapi mengapa kali ini Donwori pakai ngasih tahu segala? “Ternyata bukan hanya untuk melepas kangen dengan cucu-cucunya, tapi karena ibu ingin tinggal bersama kami,” lanjutnya.

Saat itu, Karin langsung mengiyakan. Ia malah super bahagia karena akan ada yang menemani anak-anaknya di rumah. Apalagi mertua Karin selama ini juga tinggal sendiri di Semarang karena ayah Donwori sudah almarhum. “Jadi Mas Wori pikirannya nggak terpecah. Karena dia itu sayang sekali sama ibunya,” sambung Karin.

Rupanya, kebahagiaan Karin hanya ia rasakan sekejap. Tak sampai setahun. Masuk ke tahun kedua dan selanjutnya, Karin mulai sering berselisih paham dengan mertuanya.

Awalnya hanya untuk urusan sepele, misalnya soal Karin yang tak biasa bangun pagi atau membuatkan Donwori kopi. “Tapi, lama-lama juga soal pola asuh, cara bersosialisasi hingga urusan keuangan rumah tanga. Aku dilarang ini itu, padahal mereka kan anakku dan suamiku,” curhatnya.  

Karin sudah berusaha cerita ke Donwori, tapi selalu mentok. “Pada akhirnya saya selalu yang dipojokkan. Mas Wori ngakunya nggak bisa nyakiti hati ibu. Tapi, bagaimana dengan perasaan saya,” ungkapnya.

Singkat kata singkat cerita, Karin sudah tidak betah. Ia ingin solusi terbaik bisa diambil Donwori. Tapi, bukan solusi perceraian.

“Yang mengagetkan, Mas Wori ternyata tak pernah membela saya. Ia malah memilih ibu. Keputusan itu memperjelas bahwa saya harus menyudahi pernikahan yang indah ini. Saya salut pada Mas Wori  yang sudah berjuang keras menjadi anak yang berbakti. Tapi, sebagai seorang laki-laki beristri dan punya anak, dia gagal total,” kata Karin mengakhiri perbincangan dengan Radar Surabaya di sebuah kantor pengacara di Kawasan Serabaya Selatan, sepekan lalu.

Cerita ini bukan lantas mendeskreditkan para orang tua maupun mertua. Mohon maaf, cerita ini lebih kepada sebuah pelajaran, bagaimana cara berumah-tangga maupun menempatkan diri dengan baik. (*/opi)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP