alexametrics
Sabtu, 31 Oct 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya
Banyak yang Sudah Sembuh

Isolasi Pasien Covid-19 di Hotel dan Asrama Haji Akan Dihentikan

18 September 2020, 13: 25: 54 WIB | editor : Wijayanto

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA-Ada kabar gembira bagi warga Surabaya. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menghentikan isolasi pasien Covid-19 di hotel. Sebab, pasien yang menjalani isolasi di hotel, sudah habis. Sudah sembuh semua, dan telah dipulangkan ke rumah masing-masing. Sehingga hotel-hotel yang digunakan untuk isolasi kosong.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, tren kesembuhan pasien dalam satu bulan ini terus meningkat. Rata-rata per hari 80 orang, bahkan bisa lebih.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, pasien yang menjalani isolasi perawatan di hotel saat ini sudah tidak ada. Karena sudah kosong, maka Pemkot Surabaya berencana menghentikan isolasi pasien di hotel. "Karena sudah kosong, jadi mulai kemarin itu hotel kita stop dulu karena tidak ada pasien yang di situ," kata Risma, sapaan karib Tri Rismaharini.

Lanjut Risma, biasanya ada dua hingga empat hotel di Surabaya yang digunakan isolasi. Saat ini hanya tinggal empat pasien yang menjalani isolasi di hotel-hotel tersebut. "Kemarin Rabu (16/9) tinggal 4 pasien dan kita percepat swab-nya. Hasilnya, mereka bisa keluar sehingga hotel saat ini kosong. Sudah dua hari ini kita tidak manfaatkan," imbuhnya.

Risma juga menjelaskan, di Asrama Haji yang dijadikan tempat isolasi dari sekitar 101 pasien, sekitar 75 orang dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. "Tapi apabila besok di Asrama Haji tak lagi menerima pasien, maka kami juga akan menghentikan isolasi di tempat tersebut. Karena kemungkinan yang 25 itu kita dorong untuk bisa keluar hari ini atau paling lambat besok," terangnya.

Risma memastikan pihaknya akan terus berupaya mempercepat pemeriksaan swab kepada pasien yang menjalani isolasi mandiri di rumah. Artinya, pasien itu sebelumnya melakukan isolasi mandiri di rumah dan kemudian didorong untuk menjalani perawatan di Asrama Haji. "Jadi kita masih dorong warga-warga itu untuk masuk Asrama Haji, tapi kalau mereka tidak mau ya kita akan tutup Asrama Haji. Karena posisinya pasien yang mau (menjalani isolasi) di situ sudah habis," kata perempuan kelahiran Kediri itu.

Meski demikian, Risma berharap kepada seluruh masyarakat agar tetap disiplin menjaga protokol kesehatan. Sebab, kalau masih ada penularan maka hal itu akan menjadi berat. Karenanya disiplin menjaga protokol kesehatan itu sangatlah penting dalam memutus mata rantai Covid-19. "Untuk menjaga tren membaik kita tidak boleh lengah, justru kita malah turun dan agak keras. Kita turun lebih sistemik dibanding kemarin-kemarinnya," tegasnya.

Pemkot bersama jajaran TNI dan Polri akan terus berupaya memutus mata rantai Covid-19. Karena itu, dengan adanya penerapan sanksi denda bagi pelanggar protokol kesehatan, diharapkan efektif mendisiplinkan masyarakat. "Kita harapkan denda-denda ini efektif dan bisa memberikan efek jera. Justru kita sekarang sering razia. Turun terus kita pantau terus daerah-daerah yang rawan," harap Risma.

Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Surabaya Febria Rachmanita mengatakan, Pemkot Surabaya menggunakan metode perhitungan bobot indikator kesehatan masyarakat dalam melakukan self assessment untuk memonitoring dan evaluasi internal kasus Covid-19. Dari hasil self assessment itu kemudian dilaporkan ke provinsi dan kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Kita juga melakukan self assessment dengan membuat perhitungan itu yang mengacu pada (indikator) penilaian pusat (Kementerian Kesehatan). Dan ternyata, dari data-data yang ada, memang ada penurunan dari bulan-bulan sebelumnya,” katanya.

Febria menjelaskan, instrumen dalam self assessment itu terdapat 14 indikator penilaian dan ditambah satu indikator Rt angka reproduksi efektif atau triangulasi. Namun dalam penilaian itu, pihaknya tak hanya menambah indikator Rt (triangulasi). Penilaian melalui indikator epidemiologi, pelayanan kesehatan, evaluasi laju insidensi dan mortality rate juga dilakukan.

“Kalau kita lihat bobot dari indikator kesehatan masyarakat Surabaya mulai tanggal 7 - 13 September itu nilai skor kita ada 2.44. Artinya kita sudah berada di zona risiko rendah,” terangnya.

Febria menambahkan, skor tersebut berdasarkan perhitungan penilaian pada 14 - 15 indikator. Hal itu pula yang kemudian menyebabkan jumlah pasien yang menjalani perawatan dan isolasi, baik di hotel maupun Asrama Haji, menurun. “Termasuk hotel yang awalnya kita punya 5 hotel, kemarin dua hotel pun sudah kosong. Jadi tinggal 1 hotel yang terisi pasien. Yang di hotel itu kan rapid reaktif. Setelah kita swab itu hasilnya adalah negatif sehingga pulang,” pungkasnya. (rmt/opi)

(sb/rmt/jay/JPR)

 TOP