alexametrics
Sabtu, 31 Oct 2020
radarsurabaya
Home > Sportainment Surabaya
icon featured
Sportainment Surabaya

Puslatda di Era New Normal, KONI Gelar Tes Swab

17 September 2020, 16: 59: 57 WIB | editor : Wijayanto

Ketua Harian KONI Jatim, M. Nabil

Ketua Harian KONI Jatim, M. Nabil (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA- Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur akan memulai Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) New Normal. Sebelum memulainya, bekerja sama dengan RSUD Dr Soetomo, KONI Jatim menggelar swab tes massal terhadap atlet, pelatih, mekanik yang masuk dalam skuad Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) Jatim.

Ketua Harian KONI Jatim, M. Nabil menyampaikan, swab tes massal ini dilakukan untuk memproteksi semua yang tergabung dalam Puslatda agar dapat menjalani Puslatda New Normal (PNN) dalam kondisi yang sehat dan aman dari ancaman virus corona atau Covid-19.

“Mereka harus melakukan tes swab, kalau negatif baru bisa masuk dan berlatih dengan protokol kesehatan yang sudah kita buat,” kata Nabil ketika ditemui di Gedung KONI Jatim, Surabaya, Rabu (16/9).

Apabila ada yang hasilnya positif, kata Nabil, maka akan langsung dilakukan isolasi sampai dinyatakan sembuh atau negatif sesuai ketentuan dari WHO dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. “Tidak (dicoret) nanti mereka kita isolasi sampai sembuh baru bisa ikut Puslatda New Normal. Itu konsep kita, yang penting masuk harus betul-betul dalam keadaan aman,” imbuhnya.

Untuk lebih mengamankan, KONI Jatim telah membuat protokol kesehatan yang ketat. Semua yang masuk dalam skuad Puslatda dilarang keluar masuk dari mess dan tempat latihan, orang luar dilarang masuk dalam mess.

Selain itu, setiap hari harus melakukan pengecekan suhu tubuh, menggunakan masker yang diganti secara berkala, kemudian mencuci tangan, menggunakan peralatan sendiri-sendiri. “Kalau ada yang harus pindah tempat dari mess ke tempat latihan maka akan disiapkan mobil,” katanya.

Ia menjelaskan, PNN ini merupakan skema yang paling tepat di tengah kondisi pandemi saat ini. Program training from home (TFH) yang sebelumnya dilakukan dinilai sudah cukup lama dan kurang memberikan dampak positif yang besar. Terlihat dari hasil tes kesehatan dan tes fisik yang dilakukan, terjadi peningkatan berat badan dan penurunan kondisi fisik.

“Berbeda dengan TFH karena tidak ada pertemuan langsung atlet dengan pelatih, kemudian atlet dengan atlet untuk sparing yang mematikan insting untuk mengalahkan lawan,” jelasnya.

Nabil berharap dengan skema yang dibuat dan fasilitas yang diberikan secara lengkap ini dapat dimanfaatkan untuk membenahi segala kekurangan yang ada, dan tetap bisa memberi prestasi di PON XX 2021 Papua.(sam/rak)

(sb/sam/jay/JPR)

 TOP