alexametrics
Sabtu, 31 Oct 2020
radarsurabaya
Home > Features Surabaya
icon featured
Features Surabaya
Perajin Miniatur Kapal Pinisi

Selesaikan Orderan Kapolres, Abdul Hamid "Berlayar" di Tengah Pandemi

16 September 2020, 18: 40: 54 WIB | editor : Wijayanto

DAUR ULANG: Penyandang disabilitas asal Surabaya, Abdul Hamid membuat miniatur kapal pinisi yang merupakan kapal tradisional Indonesia dari bahan triplek bekas di kediamannya di kawasan Tempel Sukorejo, Selasa (15/9).

DAUR ULANG: Penyandang disabilitas asal Surabaya, Abdul Hamid membuat miniatur kapal pinisi yang merupakan kapal tradisional Indonesia dari bahan triplek bekas di kediamannya di kawasan Tempel Sukorejo, Selasa (15/9). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

"Berlayar" di Tengah Pandemi dengan Pinisi

Keterbatasan Abdul Hamid, 40, warga Tempel Sukorejo Gang I, Surabaya tidak membuat dirinya patah semangat. Walau terbatas secara fisik, namun akal dan kreativitasnya tidak. 

GINANJAR ELYAS SAPUTRA-Wartawan Radar Surabaya

Sebagai penyandang disabilitas, Abdul mempunyai tekad gigih untuk bangkit dari keterpurukan. Akibat pandemi corona (Covid-19), usaha sablon yang sejak lama Ia tekuni ambruk perlahan pada Maret lalu hingga sekarang.

Berbekal semangat pantang menyerah, pria lulusan STM jurusan elektronik ini menggeluti dunia baru. Abdul membuat kerajinan tangan miniatur kapal layar Pinisi berbahan dasar triplek bekas. Tanpa rasa malu, setiap menerima pesanan miniatur perahu, ia rela keliling mengais triplek bekas dari sisa pembangunan rumah atau pun proyek.

“Ada panggilan dari hati. Muncul ide untuk membuat kerajinan kapal ini, sepontan saja. Saya pikir, dari pada menganggur saya tergerak membuat ini (miniatur, Red),” ujar Abdul, sembari sibuk menata kapal-kapal miniaturnya.

Sesekali, Abdul sibuk mengelem beberapa bagian minatur kapal buatannya yang belum terselesaikan. Rupanya, kapal yang ia kerjakan itu adalah pesanan Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Jhonny Edison Isir. Kapal berukuran sekitar 50 cm tersebut ia buatkan khusus untuk orang nomor satu di Polrestabes Surabaya itu.

“Sejak seminggu lalu saya diminta untuk bikinkan. Ajudannya datang ke rumah, kalau pak Kapolrestabes pesan karya saya,” ucapnya sembari menunjuk kapal miniatur setengah jadi itu. 

Saat disinggung harga, Abdul tidak mematok harga pasti. Dirinya mengaku, membuat karya tersebut sekadar iseng, jika ada yang mau ia akan membuatkan. Meskipun tidak ada pesanan, ia akan tetap membuat miniatur kapal berpenggerak layar khas Bugis, Sulawesi Selatan tersebut.

“Kapan hari itu dikasih teman uang Rp 300 ribu, saya bilang harganya seikhlasnya atau sesuai harga di pasaran. Soalnya belum pernah saya jual ke orang lain. Saya tidak maksa mematok harga, karena takutnya orang kepingin uang nggak ada dan terlalu mahal. Yang ada malah tidak jadi beli, jadi semampu orangnya,” tuturnya. 

Mengerjakan satu buah kapal pinisi, Abdul membutuhkan waktu kurang lebih seminggu. Waktu selama itu ia mengerjakan nonstop pagi, siang dan malam. Yang paling sulit baginya mencari bahan dasar pembuatan kapal, yakni kulit kayu triplek. Karena kulit triplek yang ia dapatkan tidak dijual di toko bangunan. 

“Kalau pakai triplek baru nggak bisa, karena susah dilengkungkan. Kalau kulitnya kan mudah, kayak layarnya gini,” jelasnya menunjuk bagian layar kapal.

Selain itu, yang membuatnya sulit adalah membuat detail bagian jendela, pintu, dan bagian ruangan kapal. Menurutnya, harus dikerjakan secara detail dan teliti untuk pembuatan ornamen-ornamennya. Berkat kegigihannya, semua itu mampu terselesaikan tepat waktu.

Dia tidak berangan terlalu tinggi, walaupun karya buatannya diakui sangat bagus oleh teman-teman dan orang yang pernah memesan miniaturnya. “Saya enjoy saja bikin kapal, kalau memang rejeki keluarga saya dari sini (membuat kapal, Red), ya saya tekuni,” imbuhnya.

Dirinya mengatakan, sempat ingin pergi ke Jakarta untuk bertemu langsung dengan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan memberikan satu buah karya kapal buatannya. Berhubung kondisi dan situasi tidak memungkinkan di saat musim pandemi seperti ini, ia pun mengurungkan niatnya. 

“Pengin sebetulnya, tapi ya kondisinya seperti ini. Harus pakai swab nanti malah repot untuk ke sana (bertemu Jokowi, Red),” pungkasnya. (*/nur)


(sb/gin/jay/JPR)

 TOP