alexametrics
Minggu, 20 Sep 2020
radarsurabaya
Home > Iso Ae
icon featured
Iso Ae

Istri Terlalu Banyak Menuntut, Suami Makin Bangkrut

16 September 2020, 01: 30: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Komunikasi menjadi hal yang paling penting dalam sebuah pernikahan. Kalau komunikasi tidak berjalan, rumah tangga juga bisa berhenti di tengah jalan.

Ginanjar Elyas Saputra-Wartawan Radar Surabaya

Seperti yang terjadi pada pernikahan Donwori, 32, dan Karin, 30. Mereka sudah enam tahun menikah. Tapi, ternyata pernikahan mereka berjalan tidak mulus. Ya karena saking tidak adanya komunikasi yang berimbang. Akhirnya muncul tekanan batin, baik di sisi Donwori maupun Karin, hingga akhirnya memuncak dengan berakhir seperti gelombang tsunami.  

Ceritanya, hubungan pernikahan Donwori dan Karin, seperti sedang baik-baik saja. Tapi, label baik itu ternyata hanya di luarnya saja. “Di dalam, ya hancur lebur,” kata Donwori, sinis.

Donwori ini tipe pria yang introvert. Dia tidak bisa terbuka pada siapa pun, termasuk kepada istrinya sendiri. Akibatnya, uneg-uneg yang dirasakan sebagai seorang suami, hanya bisa dipendamnya. “Karena sudah gak sanggup lagi, ya begini ini jadinya,” sambungnya.

Diakui Donwori, Karin adalah tipe istri yang menuntut. Nuntut agar semua kemauannya bisa dituruti. “Lha kalau saya bisa, ya saya turuti. Siapa sih yang nggak ingin istri bahagia? Tapi kalau tuntutannya sudah nggak masuk akal, lama-lama saya ya angkat tangan,” aku Donwori.

Tuntutan yang nggak masuk akal itu, Donwori mencontohkan soal jalan-jalan. Karin maunya minimal setahun sekali bisa ke luar negeri. “Padahal saya mampunya, maksimal ke Bali. Itu pun saya harus ngempet pengeluaran,” ujarnya.

Karin tak mau tahu soal itu. Maunya, ya bisa jalan-jalan ke Singapura. Shopping, shopping, dan shopping. Kalau tidak dituruti, Karin purik. Pulang ke rumah orang tuanya.

Padahal, Donwori tidak hanya mblanjani keperluan Karin dan dua anaknya saja. Ia juga punya ‘kewajiban’ mblanjani kebutuhan keluarga Karin. Maksudnya, kebutuhan ekonomi mertua dan adik Karin.

“Saya sebagai kepala rumah tangga sudah berusaha untuk mencukupi kebutuhan (ekonomi, Red) keluarganya dan keluarga kami sendiri. Tapi, yang ada dia malah tidak ada syukurnya,” sambat Donwori.

Awalnya, meski sering menuntut, Donwori tetap bersabar memahami istrinya. Dia juga berusaha meredam nafsu Karin agar tidak selalu meminta ini dan itu. Tapi, Karin tetap saja tidak mau tahu dan terus selalu ingin dituruti kemauannya.

Sudah bertahun-tahun memendam hal tersebut, di usia pernikahannya yang keenam, Donwori mengungkapkan isi hatinya. Ia kesal jika istrinya tidak mau mengerti dengan kerja kerasnya. “Sudah saya turuti, kok masih saja tidak ada puasnya. Nggak ngerti saya banting tulang pagi sampai sore demi dia, agar tercukupi. Eh kok malah tambah ngelamak,” ungkapnya.

Hingga akhirnya, Donwori memutuskan untuk menceraikannya di Pengadilan Agama (PA) Klas IA Surabaya. Donwori merasa sudah tidak sanggup lagi menuruti kemauan istrinya yang semakin hari malah membuatnya kesal karena kelakuannya. “Kalau begitu terus, yang ada saya jadi semakin remek. Sudah capek saya dituntut harus begini dan begitu,” tandasnya. (*/opi)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP