alexametrics
Senin, 26 Oct 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Corona Masih Mewabah, Khofifah Wanti-Wanti Jangan Lengah

15 September 2020, 15: 16: 24 WIB | editor : Wijayanto

Gubernur Khofifah Indar Parawansa

Gubernur Khofifah Indar Parawansa (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mewanti-wanti masyarakat untuk tidak lengah dan tetap mematuhi protokol kesehatan. Pasalnya, wabah Covid-19 yang telah berlangsung selama enam bulan di tanah air tidak dapat diprediksi kapan berakhir.

“Bahkan, WHO pun tidak bisa memastikan kapan wabah ini berakhir. Jangan sampai  kendor, jangan anggap enteng, dan jangan ada yang  menyepelekan,” ujar Khofifah di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.

Dia menegaskan, Pemprov Jatim akan terus berusaha menekan penyebaran dan mortalitas akibat Covid-19 dengan pengetatan protokol kesehatan. Salah satunya melalui revisi Perda Nomor 1 Tahun 2019 menjadi Perda Nomor 2 Tahun 2020 serta Pergub 53 Tahun 2020 dan implementasi  Inpres Nomor 6 Tahun 2020.  Sanksi atas pelanggaran protokol diperberat.

Khofifah menyebutkan, bagi perorangan yang melanggar protokol kesehatan akan diberikan sejumlah sanksi. “Mulai dari teguran lisan, paksaan pemerintah dengan membubarkan kerumunan dan penyitaan KTP, kerja sosial, serta denda administratif sebesar Rp 250 ribu,” katanya.

Khofifah menambahkan, sanksi juga diberlakukan pada sektor pelaku usaha, pengelola, penyelenggara, atau penanggung jawab tempat dan fasilitas umum. Sanksi itu mulai diterapkan kemarin (14/9). “Ayo disiplinkan diri dengan selalu pakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak. Ini tugas kita bersama,” tuturnya.

Khofifah juga menunjukkan laporan Alvara Analytic bahwa angka kesembuhan pasien Covid-19 di Jatim terus menunjukkan tren positif. Angka kesembuhan per 13 September  mencapai 80,18 persen.

Data per 13 September memperlihatkan angka kesembuhan Covid-19 di Jatim telah tembus 30.540. Angka tersebut bahkan menempati posisi tertinggi di Pulau Jawa jika dibandingkan dengan Banten (69,9 persen), Jogjakarta (72 persen), DKI Jakarta (75,5 persen), Jabar (53.43 persen), dan Jateng (62,3 persen).

Selain itu, pekan kedua bulan September, 7 hingga 13, Jatim masuk dalam kategori risiko terendah nomor 1 di Indonesia. Padahal, sebelumnya,  Juli, Jatim pernah masuk ke urutan 28 alias berisiko tinggi.

Penilaian Alvara ini dilakukan  mingguan menggunakan Principle Component Analysis (PCA) berdasarkan lima indikator epidemiologis. Yakni, jumlah pasien positif kumulatif, rata-rata laju kasus baru positif tujuh hari terahir, persentase kasus positif aktif kumulatif, rasio pasien sembuh serta rasio pasien meninggal.

“Angka ini bukan sekadar bilangan, tapi menjadi bukti hasil kerja keras dan sinergitas  semua pihak dalam upaya memutus mata rantai penularan Covid-19 di Jatim. Utamanya tenaga medis yang berada di garis terdepan. Juga TNI, Polri, pengusaha, akademisi, media, relawan,  dan tentu masyarakat,” pungkasnya. (mus/rek)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP