alexametrics
Minggu, 20 Sep 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya Kota Lama
icon featured
Surabaya Kota Lama
Menelusuri Jejak Sejarah Pasar Genteng (2)

Mengibas-kibaskan Uang Jadi Perilaku Unik Pedagang hingga Kini

13 September 2020, 10: 17: 32 WIB | editor : Wijayanto

TEMPO DULU: Kondisi Pasar Genteng pada masa Hindia Belanda dimana bangunannya masih berupa pendopo-pendopo dan delman jadi alat transportasi saat itu.

TEMPO DULU: Kondisi Pasar Genteng pada masa Hindia Belanda dimana bangunannya masih berupa pendopo-pendopo dan delman jadi alat transportasi saat itu. (NET/PINTEREST)

Share this      

Pasar Genteng yang dulunya berasal dari pasar krempyeng, kini pasar ikonik di tengah Kota Surabaya dan sudah menjadi sebuah bangunan bertingkat yang megah. 

Ginanjar Elyas Saputra-Wartawan Radar Surabaya

Pasar Genteng ternyata merupakan pasar seperti pada umumnya, yang mana terdapat pedagang yang menjajakan dagangan kebutuhan pokok sehari-hari. 

Ternyata di balik aktivitas transaksi jual beli yang ada di pasar tersebut, terdapat keunikan pada keseluruhan pedagangnya. Budayawan sekaligus penulis buku Soerabaja Tempo Doelo Dukut Iman Widodo menyatakan, keunikan pedagang setempat yaitu mengibas-ibaskan uang yang didapat dari pembeli ke dagangannya.

Usai transaksi, uang yang terima pedagang kemudian dikibaskan dengan mengucap ‘pelaris, pelaris, pelaris’. Hal itu sudah menjadi tradisi para pedagang sejak zaman Hindia Belanda.

“Mau jualan jajan pasar, jualan sayur, jualan makanan matang, tetap seperti itu perilakunya dari dulu sampai sekarang,” ujar Dukut kepada Radar Surabaya.

Ciri khas itu yang membuat Pasar Genteng memiliki keistimewaan, karena rata-rata yang masih melakukan perilaku tersebut adalah pedagang lama dan didominasi oleh ibu-ibu.

Saat ini Pasar Genteng yang terdiri dari tiga lantai tersebut pedagangnya masih tetap eksis menjajakan beragam sayuran, kuliner khas Surabaya, oleh-oleh atau kletikan, dan kini merambah menjadi salah satu pusat elektronik yang berada di lantai dua dan tiga.

“Nah ini yang menarik adalah banyak kuliner atau masakan khas Suroboyo yang sejak dulu hingga kini tetap ada di pasar tersebut. Dan bukanya juga di jam tertentu khusus kletikan (makanan kering, Red),” urai Dukut. (bersambung/nur)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP