alexametrics
Sabtu, 31 Oct 2020
radarsurabaya
Home > Ekonomi Surabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Perlu Kurikulum Khusus untuk Tambah Entrepreneur Baru

11 September 2020, 07: 33: 06 WIB | editor : Wijayanto

KURIKULUM BISNIS: Caecilia dan Retno Dyah, dua siswa sekolah bisnis di kawasan Surabaya Barat saat mengikuti kelas entrepreuner dengan membuat sepatu.

KURIKULUM BISNIS: Caecilia dan Retno Dyah, dua siswa sekolah bisnis di kawasan Surabaya Barat saat mengikuti kelas entrepreuner dengan membuat sepatu. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA-Hingga saat ini, Indonesia masih kekurangan entrepreneur (pengusaha). Sehingga dengan hadirnya pengusaha baru diharapkan mampu untuk menyokong kekuatan pilar ekonomi baru.  

Menurut Michael Adiwijaya, selaku Managing Director salah satu sekolah bisnis di Surabaya, saat ini baru ada 3,5 persen entrepreneur di Indonesia. Sehingga perlu adanya pengembangan bagi pengusaha baru. Sehingga perlu adanya kurikulum bisnis dalam dunia pendidikan. "Jadi usaha baru yang lahir dan berkembang akan menyokong kekuatan pilar ekonomi Indonesia," katanya.

Michael mengajak untuk memulai langkah membuat produk dalam negeri, mencintai dan menggunakan produk dalam negeri. "Mulailah menjadi entrepreneur yang kreatif dan berhasil, sehingga berdampak pada penciptaan lapangan kerja baru, peluang bisnis baru serta turut serta menggerakkan roda perekonomian di Indonesia," harapnya.

Oleh karena itu, kurikulum tersebut harus serta merta mengikuti perkembangan zaman. Terutama dengan melakukan praktek langsung pada pemilik bisnis dan praktisi bisnis yang berpengalaman. Selain itu, adanya sesi business mentoring dalam membimbing dan mengembangkan ide dan konsep bisnis menjadi keunggulan tersendiri. "Kita sadar anak muda zaman sekarang itu maunya cepat ya, mau langsung praktek, jadi kita susun konsep ini,” jelasnya.

Michael mencotohkan, saat ini yang paling digandrungi oleh anak muda adalah footwearpreneur (pengusaha alas kaki), food and nutrition entrepreneur (pengusaha makanan yang mengadopsi unsur gizi dan nutrisi) dan creative digital entreprenuer (pengusaha kreatif di dunia digital). "Selain itu, untuk tetap bisa langsung praktek harusnya berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia," pungkasnya. (rmt/nur)

(sb/rmt/jay/JPR)

 TOP