alexametrics
Sabtu, 31 Oct 2020
radarsurabaya
Home > Lifestyle Surabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya
Pameran Kronik Pertempuran Surabaya

Pamerkan Buku Catatan hingga Headline Media Cetak

08 September 2020, 00: 50: 31 WIB | editor : Wijayanto

SISA PERANG: Seorang pengunjung mengamati artefak sisa-sisa Pertempuran Surabaya, dalam pameran yang bertajuk Kronik Pertempuran Surabaya di Jalan Untung Suropati.

SISA PERANG: Seorang pengunjung mengamati artefak sisa-sisa Pertempuran Surabaya, dalam pameran yang bertajuk Kronik Pertempuran Surabaya di Jalan Untung Suropati. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA–Benda peninggalan sejarah kaya akan nilai sejarah, salah satunya adalah barang bersejarah milik Ady Setyawan. Pendiri Komunitas Roodeburg sekaligus pecinta sejarah Kota Surabaya itu pamerkan 21 benda peninggalan pertempuran Kota Pahlawan.

Apa saja yang dipamerkan dalam pameran yang bertajuk Kronik Pertempuran Surabaya ini? Ada di antaranya senjata laras panjang, pin kecil berwarna merah putih, sangkur, buku catatan pejuang zaman dulu, dan ada pula koran yang menceritakan keganasan pertempuran arek-arek Suroboyo zaman dulu. 

“Semua koleksi saya terkait pertempuran. Ada emblem-emblem pejuang yanh dirampas Belanda, ini diberikan ke saya pada tahun 2013 lalu. Ada buku saku tentang puisi-puisi dia (pejuang, Red) dalam bahasa Inggris, isinya tentang perjuangan dan kekasihnya dia, ada relik-relik, ada proyektil pistol, shotgun, senjata laras panjang juga ada,” ujar Ady.

Dirinya menjelaskan, banyak sekali kisah dari barang-barang yang ia miliki itu. Seperti koleksi lembaran-lembaran headline media cetak zaman dulu dalam bentuk kliping. Dia menjelaskan, media terutama wartawan zaman dulu selalu menulis hal-hal unik tentang peperangan di Surabaya. 

Salah satunya adalah media asing yang membahas mengenai gigihnya perjuangan gadis Surabaya di masa itu. Ady menuturkan, gadis-gadis Surabaya zaman dulu turut serta membantu arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan NKRI.

“Media asing menceritakan, gadis Surabaya saat itu tidak punya rasa takut. Bahkan di tengah derasnya hujan peluru kala itu, para gadis Surabaya rela merayap membawakan makan dan obat-obatan bagi para juang,” papar penulis buku Benteng-Benteng Surabaya ini. 

Tak hanya itu, lanjut Ady, ada dalam salah satu tulisan media massa Inggris, menuliskan tentang kelihaian penembak jitu anti udara tentara perang di Surabaya kala itu. “Jadi disebutkan, bahkan media asal Inggris itu mengapresiasi kalau tentara kita ini ahli di bidang anti udara. Artinya keahlian kita sama dengan tentara Jerman kala itu,” jelasnya. 

Ady menambahkan, pameran ini bertujuan untuk memperingati 75 tahun pertempuran Surabaya. Selain itu juga mengedukasi masyarakat dengan berbagai arsip yang dia kumpulkan sejauh ini.

“Jadi agar masyarakat tahu, seperti apa ganasnya pertempuran kala itu. Kita juga saling silangkan media satu antara media lain. Ternyata isinya sama, tulisan wartawan Indonesia dan wartawan media asing zaman dulu,” tandasnya. (gin/nur)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP