alexametrics
Selasa, 20 Oct 2020
radarsurabaya
Home > Hukum & Kriminal Surabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya
Kesaksian Direktur Pascasarjana UINSA

Dengar Keributan, Saksi Melihat Korban Kesakitan Usai Dipukuli Pelaku

18 Agustus 2020, 17: 08: 37 WIB | editor : Wijayanto

SIAP AJUKAN SAKSI: Akmal Budianto (kanan) dan tim penasihat hukum pelapor di Polrestabes Surabaya.

SIAP AJUKAN SAKSI: Akmal Budianto (kanan) dan tim penasihat hukum pelapor di Polrestabes Surabaya. (GUNTUR IRIANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA-Kasus dugaan penganiayaan yang dialami Wakil Direktur (Wadir) Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, DR Ahmad Nur Fuad, MA, terus dalam proses penyelidikan kepolisian. Unit Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Satreskrim Polrestabes Surabaya yang menangani kasus ini mulai memanggil saksi-saksi dari pihak pelapor.

Satu saksi mulai diperiksa pada Selasa (18/8) pagi. Saksi yang diajukan pihak penasihat hukum pelapor ini adalah Direktur Pascasarjana UINSA, Prof DR H Aswadi, MAg. Aswadi lah yang kali pertama dilapori oleh Nur Fuad usai menjadi korban pemukulan berkali-kali oleh pelaku, yakni Kaprodi Dirosah Islam Program Magister UINSA, DR Suis Qaim Abdullah.

Salah satu tim penasihat hukum pelapor, Akmal Budianto SH mengatakan, Aswadi menjalani pemeriksaan sekitar pukul 08.00. Pemeriksaan tersebut baru selesai sekitar pukul 11.00. Dalam pemeriksaan tersebut, saksi ditanya terkait dugaan penganiayaan yang dialami pelapor Achmad Nur Fuad.

Saat kejadian, saksi berada di ruangannya yang bersebelahan dengan ruangan pelapor tempat terjadinya aksi pemukulan oleh pelaku. "Ruangan direktur terpisah dinding dengan ruang pelapor," katanya bersama penasihat hukum lain yang juga hadir di Polrestabes Surabaya.

Ia menuturkan, saat kejadian, saksi mendapat laporan dari stafnya yang mendengar suara ribut-ribut di ruangan pelapor. Saat saksi keluar, tiba-tiba melihat terlapor atau pelaku keluar dari ruangan pelapor dan tanpa banyak kata langsung meninggalkan tempat.

Setelah itu, pelapor atau korban juga keluar dari ruangannya seraya menahan sakit di bagian kiri kepalanya. "Saat itu, pelapor mengaku kesakitan sambil memegangi kepalanya dan saksi mengetahui jika pelapor kesakitan diduga akibat pukulan terlapor," ungkapnya.

Akmal mengatakan, pihaknya masih akan mengajukan tiga saksi lagi. Namun, masih menunggu giliran untuk diperiksa. Ia mengaku bisa menghadirkan semua saksi namun karena ada pemeriksaan lain, sehingga penyidik menunda pemeriksaan saksi lainnya.

"Kami sudah siapkan saksi lain. Termasuk beberapa mahasiswa pascasarjana," jelasnya.

Seperti diketahui, aksi pemukulan yang menimpa DR Ahmad Nur Fuad terjadi pada Senin (10/8) lalu. Saat itu, korban yang sedang berada di ruangannya tiba-tiba didatangi pelaku yang tanpa banyak kata langsung memukuli bagian kepala korban. Karena tak sempat menghindar, korban pun menjadi sansak empuk aksi tinju pelaku hingga kesakitan di bagian kepalanya.

Diduga aksi penganiayaan ini dilakukan korban yang merasa tersinggung karena tidak diajak koordinasi untuk program upgrading mahasiswa pascasarjana penerima beasiswa kemenpora di era pandemi covid-19. Padahal program ini baru sebatas pembahasan dan belum ada keputusan apapun dari pimpinan.

Aksi premanisme di kampus UINSA ini kemudian dilaporkan korban ke atasannya yakni Direktur Pascasarjana UINSA Prof Aswadi, Rektor UINSA Prof Masdar Hilmy, serta pelaporan secara hukum ke Polrestabes Surabaya. (gun/jay)

(sb/gun/jay/JPR)

 TOP