alexametrics
Minggu, 20 Sep 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Jumlah Pasien Covid-19 Turun 40 Persen, Sampah Medis pun Berkurang

12 Agustus 2020, 10: 44: 15 WIB | editor : Wijayanto

DIOLAH: Petugas mengirim sampah medis ke mesin incenerator di RSUD Dr Soetomo, Surabaya.

DIOLAH: Petugas mengirim sampah medis ke mesin incenerator di RSUD Dr Soetomo, Surabaya. (SURYANTO PUTRA MUJI/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Sampah medis selama pandemi corona (Covid-19) di RSUD Dr Soetomo mengalami penurunan sekitar 30 hingga 40 persen. Itu disebabkan adanya penurunan jumlah pasien umum yang dirawat.

Direktur Utama RSUD Dr Soetomo Dr. Joni Wahyuhadi mengatakan, semenjak adanya Covid-19 pasien umum di RS tersebut semakin menurun. Sehingga sampah medis yang dihasilkan dari pasien umun pun cenderung mengalami penurunan. “Kan pasien umum turun 30 sampai 40 persen, keseluruhan jumlah pasien turun. Kecuali yang pasien Covid-19,” kata Joni.

Sementara itu, Koordinator Mutu dan Pemantauan Instalasi Sanitasi RSUD Dr Soetomo Suharyono menjelaskan lebih detail, mengapa sampah medis di kala pandemi bisa mengalami penurunan. Ketika ditemui di kantornya, Suharyono mengatakan, sampah medis saat ini justru mengalami peningkatan, akan tetapi hanya pada pasien yang dirawat di ruang isolasi khusus.

BERKURANG: Petugas mengolah sampah medis menggunakan mesin incenerator di RSUD Dr Soetomo, Surabaya.

BERKURANG: Petugas mengolah sampah medis menggunakan mesin incenerator di RSUD Dr Soetomo, Surabaya. (SURYANTO PUTRA MUJI/RADAR SURABAYA)

“Dulu, saat sebelum Covid-19, ruangan pasien umum banyak yang penuh. Jadi sampah medis pasien umum mengalami penurunan. Sedangkan, pasien yang dirawat di ruang isolasi khusus meningkat,” ujar Suharyono. 

Suharyono mengaku, menurunnya jumlah sampah medis pasien umum disebabkan adanya ketakutan masyarakat yang akan berobat di RSUD Dr Soetomo. Lantaran saat awal ada Covid-19, banyak pasien rujukan dari berbagai kota/kabupaten yang dirujuk ke RS tersebut. Sehingga pasien umum yang akan berobat mengurungkan niatnya. Terlebih yang dirujuk ke RSUD Dr Soetomo rata-rata adalah pasien yang mengalami gejala Covid-19 parah. 

“Karena pasien umum takut itu, sehingga ruangannya sepi. Akhirnya jumlah sampahnya menurun, kita kebanyakan menangani pasien yang (terinfeksi) Covid-19,” kata Dia. 

Dia memaparkan, per-bed pasien yang dirawat di RSUD Dr Soetomo bisa menghasilkan 0,25 kilogram sampah medis setiap harinya. Sedangkan di RS ini, ada sekitar 1.400-an bed. Ketika belum ada Covid-19 ada sekitar 1,3 ton sampah medis per-harinya, namun saat ini RSDU Dr Soetomo hanya menghasilkan 1 ton sampah medis per-hari. 

“Sebenarnya ini (sampah, Red) tetap ada, tapi turun. Kok bisa? Karena selama pandemi ini yang tadinya bukan sampah medis bisa menjadi sampah medis. Contohnya, seperti tempat makan pasien Covid-19, hazmat, masker, dan sarung tangan. Dulu sebelum korona, tempat makan kan bukan sampah medis, sekarang malah jadi sampah medis. Apalagi sekarang, petugas cleaning secvice saja pakai hazmat,” paparnya. 

Untuk pemusnahan sampah medis sendiri, RSUD Dr Soetomo sudah memiliki alat incenerator mandiri yang dapat digunakan mengolah limbah Bahan  Berbahaya dan Beracun (B3) tersebut. “Iya jadi kita saat ini mengalami penurunan jumlah. Jadi seperti yang dikatakan Pak Joni, jumlah limbah B3 (sampah medis, Red) kami menurun, karena pasien umum menurun,” pungkasnya. (gin/nur)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP