alexametrics
Minggu, 20 Sep 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Khofifah: Ada Perubahan Gaya Pendidikan Akibat Covid-19

11 Agustus 2020, 23: 55: 59 WIB | editor : Wijayanto

Gubernur Khofifah Indar Parawansa

Gubernur Khofifah Indar Parawansa (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan mengubah tatanan dan kebiasaan di masyarakat. Termasuk di bidang pendidikan. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, perubahan pendidikan akibat Covid-19 sangat signifikan. Hal ini menuntut peran penting seorang ibu beradaptasi dalam pendidikan pada era Covid-19.

"Sehingga yang dibutuhkan adalah karakteristik ibu milenial yang melek teknologi dan memiliki pola asuh sesuai zamannya,” ujar Khofifah dalam Webinar Nasional I dengan Tema Mencetak Ibu Milenial Pembangun Generasi Emas 2045 di Era Pandemi Covid-19, Selasa (11/8).

Mantan Menteri Sosial ini mengatakan, perubahan pendidikan akibat Covid-19 meliputi proses pendidikan di seluruh dunia menggunakan metode daring atau online. Kemudian pelajaran akan beradaptasi untuk mengajarkan berbagai keterampilan hidup di masa yang akan datang. Selain itu, ada pendefinisian ulang  terhadap peran pendidik, terutama ibu yang memiliki peran paling besar. “Dan peran teknologi dalam menunjang pendidikan semakin luas,” katanya.

 Ketua Umum PP Muslimat NU  itu menambahkan, selain itu juga diperlukan komposisi gizi yang seimbang untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga. Dalam kesempatan itu, Khofifah juga mengakui masih tingginya angka stunting di Jawa Timur. “Karena itu, selama masa pandemi ini, yang saya pesankan di dalam bantuan sosial adalah telur. Kami juga pastikan dalam bantuan sosial tidak ada produk-produk yang tidak mendukung kebutuhan gizi anak seperti susu kental manis,” jelasnya

Sementara itu, perwakilan ibu milenial dr Ranti Astria Hannah mengingatkan para ibu untuk tidak memberikan susu kental manis untuk bayi dan juga sebagai makanan pendamping ASI (MPASI). Ia menjelaskan, bayi memiliki preferensi rasa manis dan asin.  “Jadi, bila sudah diberikan makanan dengan gula berlebihan sejak dini, semakin besar akan menyukai rasa yang lebih manis lagi. Maka, seiring anak bertambah besar semakin tinggi gula yang dikonsumsi,” tuturnya. 

Meski sejak 2018 yang lalu Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah melarang penggunaan kental manis untuk anak dan juga mengatur tentang label dan promosinya melalui Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan, masih banyak masyarakat yang mengaku tidak mengetahui mengenai hal ini. Maka, tidak heran masih ditemukan balita-balita dengan gizi buruk yang juga mengonsumsi kental manis.

Ketua VII PP Muslimat NU dr Erna Soefihara mengatakan, karena kurangnya pengetahuan dan tingkat ekonomi menjadi alasan anak-anak diberikan kental manis. Seperti kejadian yang ditemukan saat turun ke masyarakat, yakni anak dari umur dua bulan diberi susu kental manis dan jadi ketergantungan. “Kalau tidak diberi menjadi marah. Karena itu, PP Muslimat NU sebagai organisasi perempuan memiliki kewajiban untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat melalui edukasi gizi,” katanya.

Lebih lanjut, Erna mengakui pada pandemi ini, edukasi gizi untuk masyarakat jelas terganggu. Sebab, sebagian besar edukasi dan sosialisasi harus dilaksanakan secara virtual. Sementara tidak semua masyarakat memiliki kemudahan akses terhadap perangkat teknologi. “Karena itu, kami berharap ada perhatian lebih dari pemerintah dan juga pihak-pihak terkait, terutama produsen untuk dapat berperan memberikan edukasi gizi dan informasi produk yang tepat kepada masyarakat luas,” pungkasnya. (mus/rek)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP