alexametrics
Minggu, 20 Sep 2020
radarsurabaya
Home > Ekonomi Surabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Perang Dagang China-AS dan Covid 19 Tekan Kinerja Industri Besi Scrap

10 Agustus 2020, 22: 18: 55 WIB | editor : Wijayanto

OPTIMIS: Direksi PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk menjelaskan peluang dan tantangan yang dihadapi perseroan akibat pandemi Covid-19 saat public expose.

OPTIMIS: Direksi PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk menjelaskan peluang dan tantangan yang dihadapi perseroan akibat pandemi Covid-19 saat public expose. (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA–Akibat perang dagang antara China dan Amerika Serikat serta adanya pandemic Covid-19, industri besi scrap kapal bekas mengalami tekanan. Selain harga besi scrap kapal menurun juga banyak produk impor yang masuk ke Indonesia. 

Meilyna Widjaja, direktur utama PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk mengatakan, perang dagang antara China dan Amerika membuat banyak besi scrap kapal bekas asal China yang masuk ke kawasan Asia, termasuk Indonesia. Sehingga, harga besi scrap kapal bekas menurun. 

“Trade war membuat China tidak bisa ekspor besi scrap ke Amerika. Sehingga banyak dialihkan ke Asia termasuk Indonesia. Akibatnya harganya menurun,” kata Meylina Widjaja saat public expose di Surabaya, kemarin. 

Sementara pandemic-Covid 19 membuat pasar semakin tertekan. Sebab, banyak industri peleburan baja yang mengurangi produksinya. Selain itu proyek infrastruktur juga banyak yang tertunda sehingga kebutuhan besi dan baja ikut menurun. 

Padahal, industri besi dan baja merupakan pasar utama perseroan. Sebab, hasil scrap besi kapal bekas hampir semuanya diserap sebagai bahan baku industri besi dan baja. Akibatnya, kinerja emiten dengan kode OPMS ini pada tahun 2019 hanya mencapai 85 persen dari target penjualan. 

“Tahun ini meskipun tekanan Covid-19 dan trade war belum berakhir, namun kami optimis kinerja tetap positif. Semester dua tahun ini sudah mulai ada perbaikan,” tambahnya. 

Untuk itu, perseroan akan melakukan diversifikasi produk. Selain menggarap market besi scrap, pihaknya juga fokus menggarap penjualan sparepart kapal, besi beton dan non ferrous seperti scrap kuningan tambaga dan aluminum. 

Perseroan juga gencar melakukan penjualan secara online sehingga market yang digarap tidak hanya sebatas di Surabaya dan sekitarnya, namun juga semakin meluas. Bahkan untuk penjualan non-ferrous bisa sampai ke luar negeri. 

“Tahun ini penjualan kami harapkan mencapai Rp 50 miliar. Kami optimis. Kami maksimalkan penjualan untuk recovery semester pertama yang tertekan Covid-19,” terang Meilyna. 

Alan Priyambodo, direktur perseroan menambahkan, sebenarnya potensi pasar besi scrap di Indonesia cukup besar. Sebab, kebutuhan bahan baku industri besi baja cukup besar. Rata-rata setiap tahun sekitar 24.000 ton. 

Selama ini kebutuhan bahan baku besi scrap banyak dipasok dari impor terutama China. Perseroan sendiri hingga kini baru memiliki kapasitas produksi 1.500 ton per bulan. Sehingga ke depan kapasitas akan terus ditingkatkan. 

Bahan baku besi scrap di Indonesia juga cukup banyak. Karena, jumlah kapal yang usianya di atas 25 tahun di Indonesia cukup banyak. Kapal-kapal inilah yang nantinya akan di-scrap karena biasanya tidak ada asuransi yang berani mengkaver. 

“Kami juga akan membangun gudang tahun ini dengan capex Rp 9,7 miliar agar lebih efisien. Selama ini kami masih sewa gudang. Dana kami ambilkan dari hasil IPO,” tandas Alan Priyambodo. (fix/jay) 

(sb/fik/jay/JPR)

 TOP