alexametrics
Minggu, 20 Sep 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Sekolah Tatap Muka Hanya Bisa Digelar di Zona Hijau

10 Agustus 2020, 15: 36: 22 WIB | editor : Wijayanto

Ketua Rumpun Kuratif Satgas Penanganan Covid-19 Jatim Dr Joni Wahyuadi

Ketua Rumpun Kuratif Satgas Penanganan Covid-19 Jatim Dr Joni Wahyuadi (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA-Pemerintah pusat melonggarkan zonasi untuk pembelajaran tatap muka. Kalau sebelumnya pembelajaran tatap muka hanya untuk zona hijau, saat ini zona  kuning juga diperbolehkan. Namun, Satgas Penanganan Covid-19 Jatim menegaskan, sekolah tatap muka harus menunggu wilayah tersebut menjadi zona hijau.

“Kami tidak ingin terjadi klaster penyebaran baru Covid-19 di sekolah. Menurut saya, harus zona hijau dulu. Transmission rate harus di bawah 1,” ujar Ketua Rumpun Kuratif Satgas Penanganan Covid-19 Jatim Dr Joni Wahyuadi.

Joni mengajak masyarakat  agar belajar dari pengalaman Tiongkok saat membuka pendidikan tatap muka. Meskipun dibuka dengan protokol ketat, masih ditemukan penyebaran kasus baru di negara panda itu.

Dirut RSUD dr Soetomo ini menambahkan, kasus corona pada anak-anak memang rendah di Jatim. Namun, jika dibuka tanpa mempertimbangkan kajian epidemiologi akan sangat berbahaya. Ia juga menilai ada perbedaan klinis antara anak-anak dengan orang dewasa.

“Memang case pada anak-anak tidak banyak. Namun, pada anak-anak klinisnya berbeda dengan dewasa, sehingga harus hati-hati. Ini karena penerapan protokol kesehatan pada anak-anak sangat sulit. Mereka kan kalau udah ketemu temannya seperti itu, makanya harus hati-hati," tuturnya.

Joni menyarankan, jika sekolah hendak dibuka harus dilakukan prakondisi terlebih dahulu. Hal ini dengan melakukan simulasi dengan melihat perilaku anak-anak, adanya proteksi ketat dan evaluasi.

Selain itu, evaluasi ini dilakukan dengan sistem periodisasi testing untuk memastikan apakah ada kasus konfirmasi baru atau tidak. “Apabila tidak ada, maka sekolah bisa mulai dibuka. Anak-anak gejala tidak terlalu khas, jadi harus hati-hati,” jelasnya.

Sementara itu, Joni juga menyampaikan tingkat kesembuhan pasien Covid-19 tertinggi di Jatim didominasi oleh pasien dengan gejala ringan. Dari 70,31 persen pasien sembuh, 63 persen berasal dari pasien gejala ringan.

Berdasar data Satgas Penanganan Covid-19 Jatim per Jumat (7/8), total jumlah pasien sembuh di Jatim sebanyak 17.221 ribu orang atau 70,31 persen. Pasien sembuh tersebut terdiri dari pasien dengan gejala ringan, sedang dan berat. Dari ketiga golongan pasien itu, pasien dengan gejala ringan terbanyak tingkat kesembuhan, yakni 63 persen.

Joni mengaku pasien dengan gejala ringan menjadi kunci tingginya kesembuhan pasien Covid-19. Mereka dirawat di RS Lapangan di Jalan Indrapura, bersama pasien dengan gejala sedang. Optimalisasi RS Lapangan Indrapura sangat menunjang untuk percepatan penanganan penyembuhan pasien ringan dan tanpa gejala.

Efektivitas penanganan yang diberikan RS Lapangan juga sudah banyak diakui oleh pasien yang pernah dirawat di sana. Jika ada pasien dengan gejala berat, akan dirujuk di RS rujukan.

“Karena itu, kita upayakan agar pasien yang dirawat di RS Lapangan bisa lekas sembuh. Jangan sampai ada pasien dengan gejala berat. Agar tidak membebani RS Rujukan,” pungkasnya. (mus/rek)

Menampilkan IMG-20200809-WA0035.jpg.

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP