alexametrics
Minggu, 20 Sep 2020
radarsurabaya
Home > Features
icon featured
Features

Akankah Terjadi Lost Generation karena Pandemi Covid-19?

OLEH: Prof Iwan Vanany ST, MT, Ph.D (*)

07 Agustus 2020, 00: 00: 19 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (ISTIMEWA)

Share this      

AKIBAT pandemi COVID-19 yang dikhawatirkan bagi para pemerhati pendidikan adalah akan terjadinya kesenjangan kualitas pembelajaran yang signifikan. Dan yang paling dikhawatirkan terjadinya lost generation pada sekelompok generasi muda. Istilah lost generation muncul kali pertama untuk menggambarkan situasi yang terjadi setelah pasca Perang Dunia I di tahun 1920 silam.

Kondisi saat itu, generasi pasca perang telah kehilangan arah, pegangan, dan tidak tahu hendak berbuat apa. Kalaupun sekelompok orang berbuat, tujuannya untuk apa tidak dipahaminya. Serba tidak pasti, pesimistik, dan kehidupan suram melanda di masa itu.

Besar dampak dan lamanya yang berkepanjangan akibat pandemi COVID-19, tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh hampir sebagian besar masyarakat bahkan pemerintah. Di awal, bahkan dianggap biasa saja. Tetapi tersadarkan setelah semakin banyaknya korban yang meninggal.

Sistem pendidikan nasional kita tidak dibangun untuk menangani kejadian pandemi. Apalagi pandemi yang berkepanjangan dan tidak tahu kapan berakhirnya seperti pandemi COVID-19 saat ini. Misalnya bagaimana model pembelajaran masa pandemi yang sesuai belum pernah ada atau ditemukan.

Pembelajaran daring memang telah ada, tetapi bagaimana pembelajaran daring dilakukan di masa pandemi yang efektif belum ada. Dari awal masa pandemi hingga sekarang, guru, orang tua bahkan Dinas Pendidikan telah berupaya keras untuk mengantisipasinya.

Pembelajaran daring sebagai pembelajaran utama telah dilakukan dengan cara yang beragam dan sporadis. Namun perlu disadari, upaya-upaya apapun yang dilakukan tidak akan memberikan kualitas pendidikan lebih baik jika disampaikan di ruang kelas.

Hasil studi dari lembaga terkemuka di Amerika Serikat menyatakan bahwa capaian pembelajaran dari banyak siswa menurun signifikan. Pembelajaran dengan kualitas yang rendah diperoleh siswa selama terjadinya penutupan sekolah di masa pandemic COVID-19.

Hilangnya pembelajaran yang berkualitas juga terjadi di Indonesia. Diduga lebih besar karena fasilitas pendukung pembelajaran daring dan jumlah orang tua yang mampu jauh dari kondisi di negara maju seperti Amerika Serikat.

Capaian pembelajaran yang diperoleh dari setiap siswa pembelajaran daring bervariasi secara signifikan dan juga terjadi kesenjangan kualitas yang signifikan. Variasi dari siswa untuk mendapatkan akses pembelajaran daring tinggi.

Untuk siswa yang mampu dan berada di kota, perangkat laptop/smartphone dan koneksi internet berbayar sudah menjadi fasilitas yang biasa digunakan. Namun bagi siswa yang tidak mampu dan berada di pelosok atau pedesaan, perangkat dan fasilitas internet tersebut adalah barang yang mewah.

Kualitas pengajaran daring yang dilakukan oleh sekolah juga beragam. Pengajaran daring adalah hal yang baru bagi sekolah yang berada di daerah. Aplikasi pengajaran daring seperti zoom, google meet, google form dan lainnya adalah hal yang baru bagi guru dan siswa. Apalagi dampak pandemi ini juga menimpa orang tua seperti terkena PHK, pendapatan menurun dan lainnya. Tentunya hal ini dapat menurunkan dukungan dan keterlibatan orang tua terhadap anaknya.

Ragamnya faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran daring akan memperburuk kesenjangan capaian pembelajaran siswa. Ada kelompok siswa yang mengalami pembelajaran daring berkualitas rata-rata. Memang akan mungkin terus berkembang, namun jelas lebih lambat bila mereka bersekolah.

Kelompok siswa lainnya mendapatkan pembelajaran daring berkualitas rendah dan ke depan akan cenderung mandek pembelajarannya. Yang paling berdampak dan negara perlu hadir mengatasi adalah siswa yang tidak mendapatkan pembelajaran daring sama sekali. Mereka kehilangan pembelajaran yang signifikan. Kelompok ini rentan menyebabkan putus sekolah.

Bahu membahu dan gotong royong dari guru, dinas pendidikan dan orang tua siswa diperlukan. Sekolah bersama Komite Sekolah dapat membentuk kelompok belajar siswa berdasarkan kedekatan rumah.

Orang tua siswa mana yang terkena putus kerja dan tidak memiliki perangkat laptop/smartphone dan koneksi internet untuk anaknya, maka pihak sekolah dan komite perlu hadir memberikan bantuan berupa dana bantuan bagi siswa yang tidak mampu atau bantuan akses internet. 

Negara perlu juga terlibat dan fokus untuk kelompok siswa yang paling terdampak. Yakni kelompok siswa yang tidak mendapatkan pembelajaran daring sama sekali dan kelompok siswa yang mendapatkan pembelajaran daring berkualitas rendah. 

Perlengkapan masker dan sabun serta fasilitas cuci tangan dan fasilitas lainnya untuk protocol COVID-19 di sekolah, kementerian terkait perlu hadir memberikan kontribusinya. Bukankah negera telah berkomitmen bahwa 20 persen anggaran negara buat pembiayaan terkait pendidikan.

(*) - Wakil Ketua 1 Dewan Pendidikan Jatim

- Guru besar di Departemen Teknik dan Sistem Industri ITS

(sb/jpg/jay/JPR)

 TOP