alexametrics
Selasa, 11 Aug 2020
radarsurabaya
Home > Ekonomi Surabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Terdampak Pandemi Covid-19, Industri AMDK Masih Optimis Ekspansi

31 Juli 2020, 20: 11: 05 WIB | editor : Wijayanto

Terdampak Pandemi Covid-19, Industri AMDK Masih Optimis Ekspansi

SURABAYA – Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan minat industri air minum dalam kemasan (AMDK) untuk terus melakukan ekspansi. Sebab potensi pasar AMDK di Indonesia cukup besar dan terus berkembang.

Melisa Patricia, wakil direktur utama PT Sariguna Primatirta Tbk menjelaskan, potensi market AMDK di Indonesia cukup besar dan akan terus tumbuh ke depan. Hal ini harus diimbangi dengan ketersediaaan produk dan distribusi yang merata di wilayah Indonesia.

“Kami terus melakukan inovasi dan pengembangan produk baru, namun masih di beverage. September nanti, ada produk baru yang kami rilis. Kami juga terus melakukan efisiensi selama pandemi Covid-19,” kata Melisa saat public expose daring, kemarin.

Eko Susilo, direktur PT Sariguna Primatirta Tbk mengatakan, kondisi market AMDK tahun ini memang melambat pertumbuhannya akibat pandemi Covid-19. Namun demikian, potensi marketnya cukup besar. Sehingga, pengembangan industri harus terus dilakukan.

“Saat ini kami mengoperasikan 27 pabrik AMDK. Tahun ini, kami rencana menambah lagi di Lampung dan Balikpapan. Semua masih konsisten sesuai plan awal tahun,” kata Eko Susilo.

Dikatakan, kedua pabrik tersebut hinga saat ini masih dalam plan. Namun, detail dan eksekusinya masih melihat perkembangan kondisi karena Covid-19. Bila tidak ada perubahan, maka awal tahun depan sudah bisa mulai beroperasi.

“Masing-masing memiliki kapasitas produksi 100 juta liter per tahun. Kami yakin tahun depan pertumbuhan marketnya akan lebih tinggai dari sekarang,” tambahnya.

Terkait kinerja penjualan, Lukas Setyo Wongso selaku direktur perseroan menjelaskan, tahun 2019, penjualan mencapai Rp 1,08 triliun atau naik signifikan sebesar 31 persen dari tahun 2018 yang sebesar Rp 831,1 miliar. Sedangkan laba bersih perseroan naik 107 persen dari Rp 63,2 miliar pada tahun 2018 menjadi Rp 130,7 miliar pada tahun 2019.

Peningkatan laba tersebut selain disebabkan meningkatnya volume penjualan dan efisiensi biaya produksi terutama pada kemasan botol dan gelas, juga karena harga bahan baku biji plastik yang turun. Selain itu juga turunnya bunga pinjaman karena pelunasan hutang perseroan pada tahun 2018.

Tahun ini meskipun ada Covid-19, pihaknya masih optimis penjualan akan naik. Hingga semester satu tahun 2020, penjualan mencapai Rp 493,9 miliar atau naik tipis 0,40 persen. Sedangkan laba bersih perseroan pada semester pertama mencapai Rp 64,7 miliar atau naik 1,19 persen dari tahun 2019 di periode yang sama.

“Kami optimistis pada tahun ini minimal ada growth sekitar 8-10 persen. Tapi bila kondisinya membaik, pertumbuhannya bisa lebih besar lagi,” katanya. (fix/jay)

(sb/fik/jay/JPR)

 TOP