alexametrics
Selasa, 11 Aug 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Buat Pupuk Kompos Lebih Praktis dengan Biopori dan Takakura

30 Juli 2020, 14: 32: 06 WIB | editor : Wijayanto

PEDULI LINGKUNGAN: Gregorius Marselino (kanan) membuat lubang resapan biopori dengan warga di kawasan Jetis kulon untuk pengolahan sampah organik, Rabu (29/7).

PEDULI LINGKUNGAN: Gregorius Marselino (kanan) membuat lubang resapan biopori dengan warga di kawasan Jetis kulon untuk pengolahan sampah organik, Rabu (29/7). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Membuat pupuk organik bisa menggunakan cara sederhana. Salah satunya memanfaatkan lubang resapan biopori dan takakura untuk penampungannya. Itu nantinya berfungsi sebagai penyubur tanaman seperti sayuran dan buah-buahan.

Gregorius Marcelino Krustian, 11, salah satu siswa kelas 5 SDN di Surabaya Pusat ini menjelaskan, pembuatannya cukup mudah. Yakni terlebih dahulu membuat lobang berukuran diameter kurang lebih 10 cm. Setelah membuat lubang tersebut, kemudian tutup bagian atasnya menggunakan tutup plastik yang diberi pori-pori lubang kecil.

“Nah lubang resapan biopori ini untuk menyaring air yang berfungsi untuk pupuk kompos. Jadi di dalam lubang resapan bio pori itu ada sampah organiknya agar bisa menjadi kompos,” kata Marcelino.

Setelah sampah organik yang ada di dalam biopori terurai, selanjutnya dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman sayur dan buah. Selain itu, menggunakan biopori, bisa juga menggunakan takakura sebagai penampungan sampah biopori.

Dalam pembuatan biopori ini, Marcel sudah sangat lihai, bersama teman-temannya ia membuat lubang menggunakan bor yang diputar beberapa kali hingga mencapai kedalaman kurang dari setengah meter. “Nanti kalau sudah jadi pupuk kita bagi-bagi ke masyarakat untuk dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman,” ujarnya.

Sedangkan membuat takakura memanfaatkan keranjang cucian bekas yang memiliki lubang-lubang kecil kemudian dilapisi dengan kardus bekas. Setelah itu baru bisa digunakan sebagai tempat sampah organik yang akam dijadikan pupuk kompos.

Selain memberikan tutorial serta membuat pupuk organik, anak-anak tersebut juga memberikan beberapa tanaman seperti kunyit, jahe, cabai, tomat, toga, dan lain sebagainya kepada masyarakat. “Nanti kita sumbangkan ke warga-warga. Saya ingin melestarikan lingkungan di Surabaya,” tuturnya.

Sejauh ini dirinya sudah menanam sekitar 30-40 tanaman, rancananya ia akan sumbangkan ke perkampungan di Kota Pahlawan. “Tergetnya agar kota ini menjadi lebih hijau,” pungkasnya. (gin/nur)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP