alexametrics
Minggu, 12 Jul 2020
radarsurabaya
Home > Ekonomi Surabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Masa Pandemi, Ekspor Bahan Baku Alat Kesehatan Meningkat

28 Juni 2020, 07: 32: 06 WIB | editor : Wijayanto

KARYA MAHASISWA: Aktivitas pembuatan hand sanitizer di Kampus Universitas Surabaya (Ubaya). Ekspor bahan baku hand sanitizer mengalami lonjakan hingga 114 persen selama pandemi Covid-19.

KARYA MAHASISWA: Aktivitas pembuatan hand sanitizer di Kampus Universitas Surabaya (Ubaya). Ekspor bahan baku hand sanitizer mengalami lonjakan hingga 114 persen selama pandemi Covid-19. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatatkan adanya peningkatan ekspor bahan baku alat kesehatan dari Jatim. Terjadinya peningkatan ekspor untuk bahan baku alat-alat kesehatan ini terkait penanganan Covid-19 dari Jatim pada Mei lalu.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Dadang Hardiwan menuturkan, peningkatan tertinggi terjadi pada ekspor sarung tangan yang meningkat 734 persen (month to month/mtm)), yakni dari USD 52.486 pada April menjadi USD 437.515 pada bulan selanjutnya.

Kenaikan juga terjadi pada ekspor bahan baku hand sanitizer yang meningkat sebesar 114 persen, dari USD 1.941.078 menjadi USD 4.159.651.

Selanjutnya ekspor termometer juga meningkat sebesar 107 persen, dari USD 2.916 menjadi USD 6.023 dan bahan baku masker yang meningkat 106 persen, dari USD 212.963 menjadi USD 439.098.

"Ekspor bahan baku kesehatan seperti hand sanitizer, masker, termasuk sarung tangan dan termometer ini mengalami peningkatan pada Mei 2020," terangnya.

Namun demikian, secara keseluruhan, lanjut Dadang, ekspor Jawa Timur pada Mei turun sebesar 8,25 persen dibandingkan April. Yaitu dari USD 1,37 miliar menjadi USD 1,25 miliar.

Begitu pula dengan impor Jawa Timur pada Mei mengalami penurunan sebesar 30,21 persen dibandingkan April. Yaitu dari USD 1,81 miliar menjadi USD 1,26 miliar.

"Impor Jatim juga mengalami penurunan sebesar 38,70 persen dibandingkan Mei  2019. Catatan tersebut menunjukkan, neraca perdagangan Jawa Timur selama Mei 2020 mengalami defisit sebesar USD 9,18 juta," urainya.

Hal ini berbanding terbalik dengan adanya peningkatan impor alat kesehatan terkait penanganan Covid-19 di Jawa Timur pada Mei 2020. Kenaikan impor alat kesehatan ini utamanya terjadi pada barang jadi.

Kenaikkan yang paling signifikan terjadi pada alat rapid test, yang peningkatannya mencapai 1.648 persen secara bulanan (mtm). Yaitu dari USD 126.828 pada April menjadi USD 2.217.360 pada bulan berikutnya.

Kenaikkan impor juga terjadi pada alat pelindung diri (APD) yang meningkat 493 persen (mtm), yaitu dari USD 146.184 menjadi USD 866.234.

Selain itu, juga pada virus transfer media yang meningkat 251 persen dari USD 9.508 menjadi USD 33.380, kacamata pelindung naik 187 persen dari USD 68.104 menjadi USD 195.189, dan hand santizer 141 persen dari USD 293.812 menjadi USD 709.350. "Impor alat kesehatan khususnya adalah rapid test kita pada Mei ini sangat tinggi," pungkasnya. (cin/opi)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP