alexametrics
Minggu, 12 Jul 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Ketua DPRD Jatim: Tidak Perlu Lakukan PSBB Secara Terminologis

28 Juni 2020, 11: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ketua DPRD Jatim Kusnadi

Ketua DPRD Jatim Kusnadi (DOK/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Wacana penerapan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya Raya muncul. Hal tersebut lantaran kasus positif Covid-19 kembali meningkat setelah PSBB berakhir.

Wacana tersebut mendapatkan tanggapan dari Ketua DPRD Jawa Timur Kusnadi. Menurutnya, rencana PSBB sebenarnya tentang implementasinya. “Artinya tidak perlu melakukan secara terminologis PSBB. Tapi, substantif saja juga bisa,” ujarnya.

Kusnadi menambahkan bahwa pemerintah tidak hanya sebatas meminta untuk mengenakan masker, mencuci tangan dan menerapkan protokol kesehatan saja. Namun menurutnya yang terpenting adalah pendampingan kepada masyarakat. “Kita dampingi dan kita imbau, ayo rek nggawe masker, ojo lali sering cuci tangan,” tutur Ketua DPD PDIP Jatim ini.

Ia mencontohkan untuk area pasar-pasar tradisional, arah masuk dan keluar harus dibedakan. Menurutnya ini penting diterapkan agar tidak terjadi penumpukan. "Jadi ada pengaturan dan aturan itu bersungguh-sungguh. Bukan hanya sporadis saja. Kalau saya lihat ini belum dilakukan. Meskipun 10 kali diterapkan PSBB, kalau tetap dibiarkan begitu, ya tidak akan terjadi penurunan, malah kenaikan,” paparnya.

Lebih lanjut Kusnadi mengatakn solusinya adalah pemerintah melakukan pendampingan kepada masyarakat. Ia menambahkan pola pendekatan yang dilakukan selama ini kurang pas. “Seharusnya pola pendekatan yang dilakukan adalah partisipatif, bukan instruktif. Kemudian jangan salahkan masyarakat dan bukan juga salah pemerintah,” tegasnya.

Terpisah anggota DPRD Kota Surabaya dari fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Josiah Michael mengaku tidak setuju jika dilakukan PSBB diterapkan kembali di Surabaya. Menurutnya PSBB hanya akan membuat kehancuran ekonomi.

“Yang terpenting adalah tata cara penanganan yang dilakukan adalah hal terpenting. Beberapa usulan kami mengenai micro lockdown telah dilakukan oleh pemkot dalam versi kampung tangguh wani jogo Suroboyo. Yang perlu digenjot lagi adalah melakukan tes ke masyarakat dengan swab polymerase chain reaction  (PCR) test bukan rapid test, karena tingkat akurasinya beda,” ujarnya.

Josiah mengaku sudah usulkan untuk menambah minimal 3 mesin PCR. Menurutnya jika mesin PCR dianggap terlalu mahal, bisa menggunakan mesin modifikasi mesin test TBC yang lebih murah. “Jumlah test PCR yang menjadi syarat minimal WHO adalah 1/1000 per minggu dan banyak daerah yang masih jauh dari syarat minimal tersebut termasuk Surabaya,” katanya.

Selain itu, lanjut Josiah, yang mungkin perlu menjadi perhatian utama Pemkot Surabaya adalah isolasi mandiri. Menurutnya masih banyak masyarakat yang tidak paham mengenai tata cara isolasi mandiri yang benar. “Sehingga penularan dalam keluarga juga menjadi faktor yang besar,” tuturnya.

Menurutnya yang sebenarnya sangat besar peluang menularkan Covid-19 ini adalah para Orang Tanpa Gejala (OTG), karena bisa bergerak kemana saja dan menularkan kepada siapa saja. Ia mengatakan ini perlu menjadi perhatian khusus. “Para OTG ini akan mudah terdeteksi apabila test dapat dilakukan secara masif dengan Swab Test,” katanya.

Josiah menambahkan dengan adanya test secara masif ini tentu akan meningkatkan angka positif. Meski demikian masyarakat tidak perlu khawatir, karena dengan diketahui sejak dini maka bisa segera dilakukan tindakan penanganannya. “Sehingga kedepannya tidak akan melonjak lagi karena angka pasti penderita sudah kita dapat. Seperti di Singapura kurva menanjak tajam karena mereka melakukan test secara masif, tapi kemudian bisa kita lihat kurvanya hampir flat,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan warga untuk berdisiplin. Menurutnya saat ini dia melihat kedisplinan masyarakat sangat rendah baik dalam penggunaan masker maupun physical distancing. “Ini adalah kunci utama memutus mata rantai pemyebaran Covid-19,” pungkasnya. (mus)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP