alexametrics
Sabtu, 31 Oct 2020
radarsurabaya
Home > Hukum & Kriminal Surabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya
Pembunuhan Terapis di Lidah Kulon

Lima Kali Pesan Pijat Plus-plus, Semuanya Dibayar Pakai Uang Kuliah

17 Juni 2020, 23: 35: 17 WIB | editor : Wijayanto

MAHASISWA KEBLINGER: Tersangka Moch Yusron Virlangga.

MAHASISWA KEBLINGER: Tersangka Moch Yusron Virlangga. (SURYANTO PUTRA MUJI/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Tersangka pembunuhan terapis pijat plus-plus, Octavia Widiyawati alias Monic, 32, warga Jalan Ciliwung 18-B, Darmo, Surabaya, berhasil ditangkap polisi.

Tersangka Moch Yusron, 19, mengaku membunuh karena jengkel setelah korban yang diordernya untuk layanan pijat plus-plus ke rumah kontrakannya di Jalan Lidah Kulon II-B No. 20, Lakarsantri, Surabaya, tidak memenuhi janjinya.

Baru memijat sekitar 40 menit, korban sudah berhenti dan malah meminta tambahan uang Rp 200 ribu untuk layanan berhubungan intim sesuai paket plus-plus yang disepakati.

Diduga Dibunuh, Mayat Terapis Panggilan Ditemukan di Kotak Kardus

Padahal sesuai kesepakatan, menurut tersangka, korban melayani pijat plus-plus selama 1,5 jam dengan tarif Rp 900 ribu.

Karena merasa tak punya uang lagi sesuai tambahan yang diminta korban, akhirnya terjadi keributan di antara mahluk berlainan jenis ini.

"Saya sudah tidak punya uang lagi. Itu uang kuliah yang saya pakai (untuk memesan layanan pijat plus-plus, Red)," aku tersangka. 

Karena ribut, tersangka khawatir suara teriakan korban didengar tetangga. Ia pun langsung membekap mulut korban. Namun, korban terus berontak sambil menyundutkan rokoknya ke lengan tersangka.

Tersangka yang gelap mata langsung meraih pisau lipat dan menusukkan ke leher korban sebanyak empat kali yang membuat terapis cantik itu mengembuskan nafas terakhir.

Tersangka dengan aman melakukan pembunuhan di rumah tersebut karena kebetulan ibunya, Angga Ayu Widianingsih, 40, dan seorang adiknya yang masih kecil sedang bepergian. Mereka bertiga tinggal mengontrak di rumah tersebut.

Di depan polisi, tersangka mengaku sebelumnya sudah lima kali menggunakan jasa layanan pijat plus-plus yang dipesannya dari media sosial. 

Yang ironis, dia selalu menggunakan uang pemberian dari ibunya yang seharusnya dipakai untuk membayar kuliah untuk memesan jasa pijat plus-plus. (gun/jay)

(sb/gun/jay/JPR)

 TOP