alexametrics
Selasa, 26 May 2020
radarsurabaya
Home > Hukum & Kriminal Gresik
icon featured
Hukum & Kriminal Gresik

Tersangka Jalani Pemeriksaan, Korban Pencabulan Trauma

20 Mei 2020, 16: 00: 43 WIB | editor : Wijayanto

PEMERIKSAAN: Kuasa Hukum Korban Sulton dan Aipda Selamet anggota unit PPA Polres Gresik mengantar korban periksa di RS Bhayangkara Polda Jatim.

PEMERIKSAAN: Kuasa Hukum Korban Sulton dan Aipda Selamet anggota unit PPA Polres Gresik mengantar korban periksa di RS Bhayangkara Polda Jatim. (YUDHI DWI ANGGORO/RADAR GRESIK)

Share this      

GRESIK - Jajaran Unit PPA Polres Gresik terus melakukan proses hukum terkait kasus pencabuan anak di bawah umur di Kecamatan Bungah yang menimpa PNF, 16, yang diduga dicabuli tetangga sekaligus keluarganya sendiri.

Kuasa hukum korban Sulthon mengatakan, korban sudah menjalani tes kejiwaan dan kesehatan ke RS Bhayangkara. “Saya temani dan dikawal penyidik Unit PPA Polres Gresik Aipda Slamet,” jelasnya.

Dari hasil pemeriksaan ada korban mengalami trauma atas kejadian tersebut. Kesehatan korban baik, namun korban memiliki riwayat kejang. Apabila disuruh mengingat kejadian tersebut langsung panas dingin dan kejang-kejang. Namun korban berakal sehat.

"Tadi korban antar daan dampingi berangkat ke RS Bhayangkara jam 09.00 pagi selesai pukul 13.30 WIB. Alhamdulillah, pemeriksaan berjalan lancar,"ujarnya. Pihaknya akan mengawal perkara itu sampai pelaku ditahan dan ditetapkan tersangka.

Sementara itu, tim penyidik Unit perlindungan perempuan dan anak (PPA) Satreskrim Polres Gresik Aipda Selamet menjelaskan, kuasa hukum korban akan melakukan pemeriksaan pelaku untuk dimintai keteranganya. "Semua keterangan saksi-saksi sudah cukup jelas. Hasil psikiater korban sudah keluar tinggal  dilakukan gelar perkara saja," jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya pencabulan yang dilakukan Sugiono ini diduga berlangsung sejak Oktober 2015 lalu. Kala itu, korban masih duduk di bangku kelas 6 SD, pelaku datang ke rumah pelaku untuk mengajak bermain anak perempuannya.

Melihat korban yang masih polos dan pelaku yang kebetulan sendirian di rumah itu, tiba-tiba nekad melakukan tindakan asusila terhadap korban. Tidak hanya sekali, dia kembali melakukan aksi serupa saat Intan duduk di bangku kelas VII.

Perbuatannya ini membuat pelaku ketagihan. Aksi bejadnya terulang lagi di tahun 2020, saat korban duduk di bangku SMA. Pada aksi yang terakhir itu, pelaku mengancam korban jika berani memberitahukan ke orang lain.

Sementara Terlapor, Sugiono , 44 , mengatakan bahwa perbuatan yang dituduhkan oleh pelapor hingga dirinya diproses Unit PPA Sat Reskrim Polres Gresik. Menurutnya itu tidak benar. Sebab, saat korban masih duduk kelas VI SD, PNF, 16, sudah diasuh, seperti anak sendiri.

"Ibu korban SW, 38, sibuk kerja kala itu. Sehingga anaknya sering dititipkan ke kami," jelasnya Memasuki, kelas VII SLTP, perbuatan asusila itu jelas tidak mungkin. Pasalnya Mawar tidak sekolah di Kabupaten Gresik, melainkan di Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan.

"Jadi selama bersekolah di sana PNF tidak pulang di rumahnya. Tapi dia tinggal di rumah ayahnya di Lamongan. Kemudian saat PNF masuk SLTA, dia pun juga bersekolah di sana. Sehingga semua yang disangkakan oleh pelapor kepada kami itu tidak benar," ucapnya.(yud/han)

(sb/yud/jay/JPR)

 TOP