alexametrics
Rabu, 27 May 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Sekdaprov Cabut Surat Imbauan Salat Idul Fitri di Masjid Al Akbar

19 Mei 2020, 10: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

CABUT IMBAUAN: Sekdaprov Jatim, Heru Tjahjono (kiri), didampingi sekretaris Masjid Al Akbar Surabaya, Helmi M Nur, membatalkan surat edaran tentang imbauan pelaksanaan Salat Idul Fitri di Masjid Al Akbar Surabaya.

CABUT IMBAUAN: Sekdaprov Jatim, Heru Tjahjono (kiri), didampingi sekretaris Masjid Al Akbar Surabaya, Helmi M Nur, membatalkan surat edaran tentang imbauan pelaksanaan Salat Idul Fitri di Masjid Al Akbar Surabaya. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA – Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Jawa Timur Heru Tjahono menegaskan bahwa suratnya yang ditujukan kepada Masjid Al Akbar yang isinya terkait imbauan menggelar salat Idul Fitri dinyatakan tidak berlaku. Menurutnya, ini untuk menghindari pro kontra terhadap isi surat dan bias dalam implementasinya.

“Ini merupakan hasil pertimbangan setelah rapat dengan Biro Kesos, Biro Hukum, Imam besar dan pengelola Masjid Al Akbar Surabaya. Dengan ini kami mencabut surat pada tanggal 14 Mei dengan nomor 451/7809/012/2020 tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Masjid Al Akbar Surabaya Helmy M Noor mengatakan bahwa Masjid Al Akbar memiliki 13 standar operasional prosedur (SOP) untuk pelaksanaan Idul Fitri. Menurutnya SOP itu siap dilaksanakan.

“Hanya saja pada item nomor 11 menyebutkan kapasitas Masjid Al Akbar Surabaya ketika salat Idul Fitri mencaai 40.000 jamaah. Akan tetapi karena physical distancing, maka jamaah menyusut menjadi 4000 orang karena memang 1 banding 10,” jelasnya.

Helmy menambahkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan merujuk hasil rapat dengan Sekdaprov maka Masjid Al Akbar tidak melaksanakan sholat Idul Fitri 1441 Hijriyah.

Sebelumnya beredar surat Sekdaprov Jatim yang memperbolehkan Salat Idul Fitri di Masjid Al Akbar Surabaya mendadak viral di sosial media. Surat itu disesuaikan dan memperhatikan Fatwa MUI Nomor 28 Tahun 2020, tanggal 13 Mei tentang Panduan Kaifiat (tata cara) dan Salat Idul Fitri Saat Pandemi Covid-19. Boleh dilaksanakan secara berjamaah asalkan tetap melaksanakan protokol kesehatan, dan tetap mencegah terjadinya penularan.

Dalam surat tertanggal 14 Mei yang ditandatangani Sekdaprov Jatim ini berbunyi memperhatikan fatwa MUI nomor 28 tahun 2020 terkait panduan kaifiat takbir dan sholat Idul Fitri selama pandemi Covid-19 mencantumkan bahwa sholat ied, takbir, tahmid, dan tasbih serta aktivitas ibadah lainnya sebagai ibadah pada bulan Ramadan boleh dilaksanakan secara berjamaah dengan tetap melakukan protokol kesehatan dan mencegah terjadinya penularan.

Pelaksanaan protokol kesehatan dalam sholat Idul Fitri di kawasan Covid-19 ini dilakukan secara berjamaah di tanah lapang, masjid, mushala, rumah atau di tempat lainnya dilaksanakan sesuai ketentuan berikut yakni memperpendek bacaan sholat dan khutbah. Kemudian melakukan cuci tangan dengan sabun dan pada air mengalir. Selain itu menggunakan masker, pengecekan suhu badan dan pengaturan shaf 1,5-2 meter.

Heru mengatakan untuk Masjid Al Akbar Surabaya, untuk masuk harus dipisah dan diarahkan dengan jarak satu hingga dua meter. Selain itu sandal harus dibawa masuk, karena proses pengambilan usai sholat ied ini yang dikhawatirkan berjubel.

“Nantinya akan disiapkan kresek (kantong plastik) untuk membawa sandal masing-masing. Kemudian shaf juga diatur dengan jarak dan juga khutbah tidak boleh terlalu panjang,” jelasnya.

Untuk tempat berwudhu diberi jarak, dan tempat pencuci kaki diberi sabun cair antiseptik. Setelah selesai sholat ied jamaah hanya diberi waktu 10 menit untuk berdoa. “Kami tidak mungkin melarang untuk sholat,” ujarnya sembari tersenyum.

Saat ditanya bagaimana dengan masjid atau mushola lainnya yang menggelar sholat ied, Heru mengatakan akan menyerahkan pada kebijakan pemerintah kabupaten/kota masing-masing. “Kalau memang dilakukan berjamaah protokolnya harus seperti ini,” pungkasnya. (mus)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP