alexametrics
Selasa, 26 May 2020
radarsurabaya
Home > Lifestyle Surabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Melihat Keunikan Tubuh Manusia lewat Lukisan

12 Mei 2020, 13: 59: 19 WIB | editor : Wijayanto

EKSPRESIONISME: Seniman Surabaya Candra Rizky Persada dan karyanya.

EKSPRESIONISME: Seniman Surabaya Candra Rizky Persada dan karyanya. (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA - Seniman sekaligus mahasiswa semester akhir Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya Candra Rizky Persada, 22, memiliki sudut pandang dalam melukis tubuh manusia. Menurutnya, ada karakteristik tersendiri yang memiliki nilai seni. 

Hal itu membuat seniman muda kelahiran Surabaya 27 Mei 1998 ini membuat karyanya memiliki ciri khas tersendiri. Walau jika dilihat sepintas, karyanya mirip dengan lukisan pelukis asal Austria Egon Schiele.

“Masing-masing tubuh manusia ada keunikan sendiri-sendiri,  mulai dari gendut, kurus, sampai dengan berbagai bentuknya. Saya bisa menangkap hal menarik dari situ,” kata Candra.

Dirinya mengaku, kalau karya lukisnya itu terinspirasi dari karya milik Egon Schiele. Namun karyanya ini tentu ada perbedaanya dengan karya seniman tersebut. “Awalnya memang saya terinspirasi dari Egon Schiele. Tapi, karya saya tetap memiliki ciri khasnya sendiri, seperti bentuk yang terdistorsi. Karya saya juga tetap memperhatikan background, berbeda dengan Egon Schiele yang cenderung tidak memperhatikannya,” ungkapnya.

Menurut dia, bentuk distorsi ini selain bisa menambah nilai artistik, juga menciptakan kesan yang lebih dramatisir. Hal ini mewakili perasaannya sendiri. “Tubuh manusia yang saya lukis tidak berbentuk sempurna, sudah terdistorsi. Kalau ingin menyampaikan hal yang sangat tidak enak di hari, caranya dengan distorsi secara ekstrem,” terangnya.

Mahasiswa angkatan 2016 ini bercerita, mulai menemukan gaya lukisan ekspresionisme seperti itu sejak ia memasuki semester lima, yakni tahun 2018. “Saya menemukannya saat mata kuliah kritik karya, dari situ melihat karyanya Egon Schiele. Akhirnya terpengaruhi, bentuknya sedikit mirip,” ungkap Candra.

Sebelumya, ia cenderung membuat karya ilustrasi, seperti orang yang kepalanya berupa asap, manusia bertanduk, dan sebagainya. Untuk merampungkan karyanya, setidaknya Candra membutuhkan waktu dua hari. Menurutnya, eksplorasi menjadi proses yang paling susah.

Sejauh ini, Candra menggunakan media cat air di atas kertas. Selain memang lebih menguasainya dibanding media lain, ia merasa cat air memberikan hasil yang paling cocok. Melalui karya-karyanya itu, Candra ingin menyampaikan hal yang tidak bisa ia ungkapkan secara verbal. Seni lukis, menjadi medianya dalam menyampaikan gagasan.

“Kalau ditanya tentang arti lukisan saya, saya memilih untuk tidak menyebutkannya. Semua tergantung interpretasi dan persepsi masing-masing orang yang melihatnya,” pungkasnya. (gin/nur)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP