alexametrics
Minggu, 24 Jan 2021
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya
WHO Larang Semprotan Disinfektan ke Tubuh

Guru Besar ITS: Ozon dan Klorin Lebih Aman untuk Bilik Sterilisasi

30 Maret 2020, 16: 02: 33 WIB | editor : Wijayanto

MENGANDUNG ALKOHOL: Bilik sterilisasi untuk cegah virus corona di Bandara Juanda.

MENGANDUNG ALKOHOL: Bilik sterilisasi untuk cegah virus corona di Bandara Juanda. (RAHMAT SUDRAJAT/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini merilis imbauan agar tidak menyemprotkan disinfektan langsung ke seluruh tubuh. Sebab, penyemprotan alkohol atau klorin langsung ke seluruh tubuh manusia justru bisa memberikan efek samping seperti iritasi kelenjar mukosa hingga memicu kanker.

Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Prof Dr Fredy Kurniawan MSi menyebut jika imbauan WHO itu bisa menjadi peringatan kepada masyarakat bahwa bahan kimia perlu ditangani dengan benar. Artinya, tidak sembarang orang boleh meramu disinfektan atau antiseptik mandiri. Hanya mereka yang memiliki pengetahuan tentang kimia yang bisa melakukannya.

“Bila dilakukan oleh orang yang tidak punya kompetensi dan kapabilitas yang cukup dalam meramu dan menggunakan secara benar, maka akan sangat berbahaya bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Baik dalam waktu dekat dan jangka panjang,” ungkap Fredy.

Dosen yang bergelut di bidang kemo dan biosensor ini menjelaskan lebih dalam apa itu antiseptik dan disinfektan. Berdasarkan konsep WHO, antiseptik adalah salah satu jenis disinfektan yang menghancurkan atau menghambat mikroorganisme pada jaringan hidup tanpa mengakibatkan cedera. Termasuk dalam klasifikasi ini adalah polyvidone iodine, chlorhexidine, dan alkohol.

"Sedangkan disinfektan berfungsi menghancurkan dan menghambat mikroorganisme patogen pada keadaan nonspora atau vegetatif," terangnya.

WHO merekomendasikan etanol dan klorin untuk cairan antiseptik. Namun, ia menyebut jika WHO tidak merekomendasikan cairan seperti etanol, klorin, dan H2O2 untuk disinfektan yang biasanya digunakan pada bilik sterilisasi.

Hal ini karena bahan-bahan tersebut bersifat karsinogenik, bahkan mengakibatkan mutasi bakteri. Pendapat ini mempertimbangkan dampak negatif pada satu hingga dua tahun ke depan jika memapar orang yang disemprot disinfektan ke seluruh tubuh.

Dari semua bahan kimia yang umum tersedia sebagai disinfektan, berdasarkan Centers of Disease Control and Prevention (CDCP) dan WHO, hampir semua senyawa tersebut memiliki efek yang cukup signifikan bila digunakan kepada manusia secara langsung.

Namun, masih ada dua senyawa yang aman digunakan dalam bilik disinfektan. Yakni ozon dan klorin dioksida. Dengan catatan pemakaiannya tepat ukuran dan caranya benar.

Tulisan terbaru terkait terapi ozon telah dilaporkan oleh Rowen dan Robins. Ozon efektif digunakan untuk membunuh SARS Cov-2 yang merupakan penyebab Covid-19 secara aman, efektif, dan dengan biaya yang rendah.

"Batas yang bisa diterima manusia terpapar oleh ozon adalah 0,06 ppm selama 8 jam per hari untuk lima hari dalam seminggu atau 0,3 PPM maksimum untuk 15 menit,” jelas dosen Departemen Kimia ITS ini.

Sedangkan klorin dioksida, berdasarkan data WHO dan penelitian lain, memiliki potensi untuk digunakan dalam bilik sterilisasi. “Penelitian menunjukkan bahwa bila terhirup pada jangka yang pendek klorin dioksida cukup aman bagi kesehatan manusia dengan batas konsentrasi sampai 0,3 ppm selama 15 menit tidak akan menyebabkan kematian ataupun tanda-tanda adanya gangguan kesehatan,” paparnya. (ism/rek)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP