alexametrics
Jumat, 29 May 2020
radarsurabaya
Home > Lifestyle Surabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Obat Keras, Chloroquine Tak Boleh Dibeli Sembarangan untuk Obat Corona

Bisa Rusak Jantung, Ginjal, Liver, Buta, Tuli

30 Maret 2020, 01: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

Obat Keras, Chloroquine Tak Boleh Dibeli Sembarangan untuk Obat Corona

SURABAYA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memesan obat chloroquine dan avigan untuk mengobati pasien corona (Covid-19). Dua juta avigan dipesan di luar negeri. Sementara tiga juta chloroquine didapat dari BUMN dalam negeri, Kimia Farma. 

Meski ada di dalam negeri, masyarakat dihimbau keras agar tidak membeli obat tersebut sembarangan untuk mengobati atau mencegah penularan Corona. 

Pakar Farmasi Universitas Airlangga Prof Suharjono menyebut, chloroquine merupakan obat keras. Obat ini dulunya digunakan sebagai obat malaria. Namun saat ini tidak lagi digunakan karena efek samping yang besar serta parasit malaria yang semakin resisten. Saat ini chloroquin digunakan  untuk mengobati penyakit lupus dan rematik arthritis. 

"Efek samping obat ini banyak sekali diantaranya merusak jantung, ginjal, liver, kebutaan hingga tuli, maka dari itu sudah tidak dipakai," terangnya saat dihubungi Radar Surabaya.

Karena side effect itu, chloroquin justru bisa menjadi racun di dalam tubuh. Obat ini memiliki waktu paruh yang panjang. Yakni antara dua puluh sampai enam puluh jam untuk satu butir saja. 

Referensi lain menyebutkan obat ini bisa bertahan di dalam tubuh selama lima hari. Maka dari itu, penggunaannya untuk malaria pun dibatasi. Bukan untuk diminum satu hari berkali-kali. Melainkan dua sampai satu minggu sekali. 

"Maka akan berbahaya kalau ada yang beli sendiri dan dikonsumsi sembarangan," ujar Suhardjono. 

Sebenarnya, lanjut dia, chloroquine tidak gampang dijumpai di semua apotek. Hanya di beberapa apotek dan rumah sakit. Karena kegunaannya terbatas untuk penyakit tertentu saja.

Di Indonesia, sifat obat ini generik. Pembeliannya pun harus sesuai resep dokter. 

Perlu diketahui, chloroquine tidak bisa digunakan untuk mencegah atau mengobati penyakit Covid-19. Obat ini hanya penyempurna yang akan bekerja jika dikombinasikan dengan obat antiviral lain. Salah satunya avigan yang dipesan bersamaan.

Kerja chloroquine adalah menyempurnakan kerja dari avigan. Chloroquine bekerja untuk mencegah virus Covid-19 masuk ke dalam sel endosom paru-paru. Baru kemudian avigan bekerja untuk membunuh virus covid-19 yang tidak bisa masuk ini. 

"Kalau virus masuk (ke paru-paru) akan tumbuh subur di situ. Maka obat ini mencegah virus masuk dengan meningkatkan PH di daerah endosom," paparnya. 

Penelitian luar negeri menyebut dengan bantuan chloroquine, maka penyembuhan pasien Covid-19 dapat lebih cepat dikombinasikan dengan avigan. 

Hal ini dibenarkan oleh Suhardjono. Yakni dengan masa penyembuhan antara 7-14 hari. "Pengobatan chloroquine dengan avigan maka perbaikannya lebih cepat, sehingga waktu opname lebih pendek," terangnya.

Karena harus dengan resep dokter mengingat efek sampingnya yang besar, maka sia-sia saja jika masyarakat nekat membeli obat ini untuk mengobati apalagi mencegah covid-19 secara bebas. 

"Bukan sembuh yang didapat, tapi malah racun. Karena avigannya kan tidak ada di pasaran, beli chloroquine saja kan tidak ada gunanya, malah meracuni dirinya sendiri," katanya. 

Meski memberikan pemulihan yang lebih cepat, chloroquine tetap tidak disarankan untuk pasien covid-19 tertentu karena kontraindikasinya. Seperti ibu hamil, pasien dengan penyakit jantung dan liver. 

Sebelumnya Presiden Jokowi memesan qloroquin dan avigan karena di beberapa negara, obat ini ampuh untuk mengobati Covid-19. Sebelumnya obat ini juga digunakan mengobati penyakit MERS dan flu burung. (ism/jay)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP