alexametrics
Minggu, 07 Jun 2020
radarsurabaya
Home > Iso Ae
icon featured
Iso Ae

Nasib Cucu Sambung yang Dijahati Mertua

27 Maret 2020, 16: 05: 46 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: JUJUK KHARISMA)

Share this      

Hubungan antara mertua dan mantu aja drama ya. Apalagi kalau mertua dengan cucu sambung. Tambah kayak sinetron penyiksaan.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

USIA Karin 28 tahun saat menikah dengan Donwori, 36, dulu. Ia merupakan janda baru beranak satu. Sementara Donwori beranak dua.

Jujur-jujuran saja, sebagai janda muda, banyak laki-laki mengejarnya. Ada orang kantoran, ada yang kaya ada yang ganteng luar biasa. Namun kala itu Karin memilih Donwori. Yang tidak kaya, tidak juga tampan. Dia hanya memilih laki-laki sepenanggungan. Yang sama terluka oleh pernikahan, yang sama nggembol anak.

"Pikirku, gak akan ruwet maneh omah tangga. Podo nasibe,"cerita Karin di sebuah kantor pengacara yang berada di samping Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, belum lama ini.

Namun rupanya, perkiraannya mbleset. Masalah rumah tangga tetap ada. Kali ini datangnya dari mertua yang jahatnya naudzubillah ke cucu sambungnya. Mertua Karin, sebut saja Mira, sudah menunjukkan rasa tidak suka padanya dan anaknya. Dia bahkan melengos setelah disalami. Namun itu permulaan saja, perjalanan masih panjang.

Hari-hari berikutnya perlakuan Mira ke Karin dan anaknya makin parah. Dua orang malang ini tidak dianggap menjadi bagian dalam keluarga. Jangankan ikut nimbrung bercengkrama. Karin tanya hal sepele saja ke mertua, jawabnya adalah plengosan sinis.

Namun di sini, anak Karin yang menderita. Karin dan Donwori kebetulan punya anak yang sama-sama 10 tahun, tapi perlakuan berbeda. Anak Donwori dimanja-manja. Dibelikan mainan, serta chiki-chiki. Sementara anak Karin, hanya melihat meski tentu ada rasa pengen di situ.

Sekadar lauk makan saja, ada diskriminasi antara keduanya. Anak Donwori dapat daging dan ikan, sementara anak Karin cukup tahu tempe dan kecap. Karin baru tahu, karena sehari-harinya dia bekerja.

Dengan mata kepalanya sendiri, Karin melihat bagaimana perlakuan nenek yang sangat membedakan cucunya ini. Suatu ketika, anak Donwori, cucu kesayangan Mira ini menangis kencang. Dia jatuh dan terluka, lututnya berdarah. Jatuhnya itu murni ketidaksengajaan. Namanya anak kecil main-main. Keduanya ya ketawa-ketawa sebelumnya.

Namun tanpa angin tanpa hujan, si Mira membentak anak Karin. Bahkan dengan tuduhan anak Karin ini sengaja mau mencelakai kakaknya. "Nangis lah anakku dibentaki. Masih kecil dibilang bawa sial, diilokno matae juling, aku ae sing jadi ibu nelongso," terang Karin berkaca-kaca.

Hingga suatu ketika, sepulang kerja Karin menjumpai tubuh anaknya memar. Anaknya sih biasa saja. Dia tetap asyik dengan mainannya. Ia yang curiga ada yang tak beres langsung bertanya, tak dijawab. Dia malah menangis. Ditanya lagi siapa pelakunya, dia tetap tak mau mengatakan.

Paham apa yang terjadi, ia tanyai mertuanya. Sudah diapakan  cucunya itu. Begini jawaban Mira, "Arek iku jupuk telure mase nak mejo makan, yo tak keplaki. Gari nunggu tak gorengno tahu e ae gak kanten," jawabnya tanpa dosa.

Seketika itu Karin lemas. Ngenes dengan perlakuan yang diterima anaknya. Perkara makan saja harus soro begini.

Saat itu juga, Karin berkemas.Nyari kos-kosan sementara. Ia putuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Donwori yang selama ini juga tak membantu apa-apa. Membela anak Karin aja maju mundur.

"Jatukno winggi aku ngrabi bujang. Sing wes luengket mbek anakku. Lha golek dudo podo ae soro, kok pas oleh morotuo sing koyo mak lampir," pungkasnya. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP