alexametrics
Senin, 30 Mar 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya
Kisah dr.Budi Hidayat MKes Sembuh dari Corona

Jalani Isolasi di RSUA 12 Hari, Hibur Diri dengan Ibadah dan Nonton TV

27 Maret 2020, 09: 33: 27 WIB | editor : Wijayanto

Kepala KKP Kelas I Surabaya di Bandara Juanda, dr Budi Hidayat M.Kes

Kepala KKP Kelas I Surabaya di Bandara Juanda, dr Budi Hidayat M.Kes (IST/DOK RSUA)

Share this      

SURABAYA - Penyakit Covid-19 bisa menjangkiti siapa saja. Bahkan Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Bandar Udara Juanda yang menjadi garda terdepan pencegahan Covid-19 di tingkat transportasi udara. Yang pekerjaan sehari-harinya memastikan orang dari luar negeri maupun luar kota masuk ke Surabaya dalam kondisi aman dari Covid-19 pun bisa tertular. 

Adalah dr. Muhammad Budi Hidayat M.Kes, mantan pasien positif Covid-19. Dia dinyatakan sembuh dan negatif dari corona setelah sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS Unair). Dia masuk pada Minggu (15/3) dan menjalani perawatan serta isolasi selama 12 hari hingga dinyatakan negatif corona dan boleh pulang pada Kamis (26/3) kemarin. 

Kepada Radar Surabaya, dr. Budi bercerita tentang gejala yang dia alami sebelum dinyatakan positif. Pada Jumat (13/3) dr. Budi mengalami demam disertai pusing selama dua hari. Kala itu suhu tubuhnya tidak terlalu tinggi. Naik turun antara 36- 37,4 hingga 37,9 derajat selsius. Tidak ada sesak nafas ataupun hilang kesadaran/pingsan. Dia hanya merasa lemas. 

"Saya merasa ada yang tidak beres pada badan saya. Baru saat itu saya telusuri riwayat kontak saya dengan siapa saja. Saya ingat, Jumat (13/3) sempat memeriksa mahasiswi Indonesia yang baru pulang dari Tiongkok. Saat itu kondisi dia baik, tidak sakit,” ujarnya.

dr. Budi menjelaskan, tidak semua penumpang pesawat yang datang dari luar negeri melewati pemeriksaan petugas KKP di Bandara. Hanya mereka yang datang dari daerah pandemik dan terjangkit saja yang diperiksa. 

Karena tak kunjung membaik, pada Minggu(15/3), dr. Budi langsung berinisiatif untuk memeriksakan diri ke RSUA. Saat itu dia menjalani serangkaian tes thorax, darah hingga swab. Setelah serangkaian pemeriksaan tersebut, dia dirawat di ruang isolasi RSUA sembari menunggu hasil tesnya keluar. 

Pada Selasa (17/3), tim dokter menyatakan bahwa dia positif terkena Covid-19. Kala itu perasaannya tentu shock. Namun dia berusaha menenangkan diri dan menyerahkan kepada Tuhan serta bersemangat untuk sembuh.

Ia pun mulai menjalani masa-masa isolasi. Selama isolasi, dr. Budi mendapatkan perawatan layaknya pasien Covid-19. Kondisinya yang masih cukup baik tidak membuatnya harus dirawat menggunakan alat bantu pernafasan. 

Dia hanya berbaring di kasur dengan bantuan infus. "Saya diinfus sejak Minggu karena lemas. Jumat (20/3) mulai segar kondisi saya, Sabtu depannya (21/3) lepas infus. Senin (23/3) diambil swab lagi, hasilnya Kamis (26/3) dinyatakan negatif," ujarnya. 

Selama diisolasi, dokter berusia 48 tahun ini diberikan obat serta ditingkatkan daya tahan tubuhnya. "Ada beberapa obat. Ada obat demam, chloroquine diberikan sehari dua kali. Juga obat antiviral dua kali sehari, " paparnya. 

Untuk mensupport imun tubuh, dr. Budi juga disupply makanan bergizi serta vitamin dan minuman energi.  

Selama menjalani isolasi juga, dr Budi selalu selalu menanamkan pikiran agar tidak stress. Dia bersyukur mendapatkan dukungan lebih dari keluarga dan perusahaan. Juga  tim medis yang sangat perhatian dalam menangani pasien. 

Yang tidak berhenti memberikan motivasi dan semangat untuk pasiennya. "Khawatir pasti ada karena banyak yang tumbang ya. Tapi saya positif karena banyak yang support," terangnya. 

Untuk menghibur diri, dokter ramah ini mencoba memperbanyak ibadah. Ia juga mengalihkan kekhawatiran dengan menonton TV. "Saya nonton yang lawak-lawak. Saya tidak menonton berita. Kalau ada corona, langsung saya ganti channel lain, takut kepikiran," terangnya sembari tertawa. 

Pesannya kepada masyarakat, penyakit Covid-19 ini bisa menular kepada orang yang daya tahan tubuhnya tidak baik. dr. Budi membenarkan, saat itu kondisi badannya sedang tidak fit. Dia juga mengatakan, penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya, asalkan daya tahan tubuh pasien kuat. 

Oleh karenanya, dia berpesan kepada masyarakat untuk meningkatkan kekebalan tubuh dengan pola hidup sehat. Perbanyak minum, makan bergizi dan managemen stress. 

Kepada yang merasa sakit, dia menghimbau untuk menjaga jarak dan segera melakukan pemeriksaan. Sehingga penularan ke banyak orang bisa ditekan. 

Sementara kepada masyarakat yang sehat, agar juga selalu menaati protokol kesehatan. Menjaga jarak atau social distancing, hindari kontak dengan banyak orang dengan di rumah saja. Juga dengan senantiasa menjaga daya tahan tubuh. 

“Imbauan saya, penyakit ini bisa sembuh. Hindari kontak dengan orang lain supaya tidak memperberat dan menambah kasus," tegasnya.

dr. Budi menyebut, saat ini penanganan Covid-19 di Surabaya dan di Jawa Timur sangat baik. Ini tak lepas dari gerak cepat pemerintah kota maupun provinsi. Oleh karenanya, ia mengajak masyarakat agar tidak menambah angka penularan, dengan membatasi kontak. Sampai penyakit ini mereda. (ism/rud)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia