alexametrics
Senin, 30 Mar 2020
radarsurabaya
Home > Surabaya
icon featured
Surabaya

Stay At Home Bikin Penumpang MPU Anjlok 70 Persen

26 Maret 2020, 03: 43: 49 WIB | editor : Wijayanto

SEPI: Calon penumpang berada tak jauh dari angkutan umum di Terminal Intermoda Joyoboyo di Wonokromo, Surabaya, Rabu (25/3).

SEPI: Calon penumpang berada tak jauh dari angkutan umum di Terminal Intermoda Joyoboyo di Wonokromo, Surabaya, Rabu (25/3). (SURYANTO PUTRA MUJI/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA - Di tengah kebijakan pemerintah yang menganjurkan masyarakat untuk bekerja di rumah atau work from home (WFH) dan stay at home atau tetap tinggal di rumah untuk mengantisipasi wabah virus corona membuat jumlah penumpang angkutan umum (MPU) di Surabaya turun drastis. Penurunannya pun mencapai angka 70 persen.

Ketua DPC Organisasi Angkutan Darat (Organda) Surabaya Sunhaji Ilahoh mengungkapkan bahwa dampak dari kebijakan tersebut sangat menyulitkan bisnis mobil penumpang umum (MPU) alias angkutan kota (angkot). 

Selain jumlah penumpang yang terjun bebas, sisa jumlah penumpang yang ada pun tidak banyak yang bergerak. "Kondisi ini memang membuat kami tidak bisa berkutik," terangnya.

Sunhaji menyebut, angkutan kota yang masih beroperasi lumayan berada di wilayah pabrikan. Pasalnya, mereka biasa mengantarkan penumpang yang merupakan buruh pabrik. "Biasanya mereka langganan. Seperti angkot WL dari Bulak Rukem ke Rungkut. Kalau di wilayah barat dari Manukan ke Perak juga masih jalan sebagian," urainya.

Berbeda dengan angkutan kota yang berada di wilayah pusat kota. Menurutnya, saat ini penumpang di jalan umum hampir tidak ada. "Di tengah kota ada, tapi hanya satu dua. Karena memang penumpangnya tidak ada. Jadi sekarang ini kami hanya bertahan," ujarnya. Hal ini menjadi lebih buruk setelah tempat-tempat strategis yang biasa dikunjungi pun ditutup. 

Menurutnya, kondisi ini sudah berlangsung selama satu pekan lebih. Selama itu pula, penghasilan sopir angkot pun turun drastis. "Kalau kondisi normal rata-rata sehari bisa dapat Rp 150.000. Tapi bagi yang tidak punya langganan ya tidak ada pendapatan. Tempat wisata ditutup, mall juga sepi, mau kemana lagi," katanya. Sementara, jumlah armada angkutan kota (angkot) di kota Surabaya hingga saat ini ada sebanyak 1.750 unit. 

Oleh sebab itu, pihaknya meminta pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk memperhatikan nasib pekerja di sektor angkutan yang kini ikut terdampak virus Corona atau Covid-19. Pasalnya banyak angkutan umum yang tidak beroperasi.

"Pemerintah bisa memberikan sembako agar kami bisa hidup layak disamping kami harus memenuhi kebutuhan yang lain," ujarnya.

Sunhaji juga menambahkan, keluhan ini tidak hanya dari angkutan umum konvensional, tetapi juga angkutan umum online, seperti Gojek dan Grab. "Apalagi mereka masih punya tanggungan kredit. Berbeda dengan angkot yang sudah lunas. Jadi kami harap pemerintah bisa memberi perhatiannya," imbuhnya. (cin/jay)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia