alexametrics
Jumat, 05 Jun 2020
radarsurabaya
Home > Hukum & Kriminal Surabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Kepala Gudang Dibui karena Gelapkan Regulator Senilai Rp 24,51 Juta

Dalihnya untuk Biaya Lahiran Anak

24 Maret 2020, 15: 22: 16 WIB | editor : Agung Nugroho

PULUHAN : Kapolsek Wonocolo Kompol Masdawati menunjukkan barang bukti dan tersangka kasus penggelapan regulator gas di Mapolsek Wonocolo, Surabaya.

PULUHAN : Kapolsek Wonocolo Kompol Masdawati menunjukkan barang bukti dan tersangka kasus penggelapan regulator gas di Mapolsek Wonocolo, Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Share this      

SURABAYA-Tindakan Jafid Aris Arpriadna, 24, sungguh kelewatan. Dipercaya menjadi kepala gudang, pria asal Desa Nglampin, Ngambon, Bojonegoro ini malah melakukan penggelapan regulator gas elpiji di gudang toko PT Alle Mandiri Jalan Sidosermo Airdas VI-G/146, Surabaya.

Tak tangung-tanggung tersangka sudah menggelapkan barang serupa 10 kali. Akibatnya, pihak toko mengalami kerugian sekitar Rp 24, 510 juta. 

Kapolsek Wonocolo Kompol Masdawati Saragih mengatakan, kasus penggelapan ini terungkap setelah pihak korban, Tommy Candra Wijaya, 26, warga Jalan Krembangan melapor ada tindakan penggelapan barang toko. 

Setelah dilidik, meminta keterangan saksi-saksi dan mengarah ke tersangka. Kemudian dilakukan penangkapan dan ditemukan barang bukti dua dos regulator merk Star Cam.

"Tersangka mengaku sudah menggelapkan barang 10 kali," ujarnya kepada Radar Surabaya, Senin (23/3).

Modusnya, lanjut Masdawati, tersangka memanfaatkan jabatannya sebagai kepala gudang. Dia menggelapkan barang dengan mudah karena memegang kunci gudang.

"Dia sudah bekerja di toko tiga tahun sebagai kepala gudang," terangnya. Dijelaskan Masdawati, barang hasil penggelapan kemudian dijual tersangka ke orang yang dikenal dengan harga lebih murah.

Sementara, tersangka Jafid Aris Arpriadna yang akrab disapa David mengaku melakukan penggelapan karena butuh biaya bersalin istrinya di rumah sakit.

"Hasilnya mau buat biaya lahiran anak," ucapnya sambil menunduk.

Tersangka mengaku bila satu dos berisi 30 regulator, harga normal sekitar Rp 3 juta. Dijual kembali dengan harga sekitar Rp 1, 3 juta hingga Rp 1, 5 juta.  "Kalau jual bijian Rp 45 ribu," sambungnya.

David mengaku, selain dibuat keperluan biaya bersalin, uang hasil kejahatan digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. "Saya menyesal. Baru ketangkap ini," imbuhnya. 

Atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal 374  tentang tindak pidana penggelapan dalam jabatan dengan ancaman 6 tahun kurungan penjara.(rus/rud)

(sb/rus/Nug/JPR)

 TOP