alexametrics
Senin, 30 Mar 2020
radarsurabaya
Home > Ekonomi Surabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Multivitamin Banyak Diburu, Kinerja Industri Farmasi Naik 10 Persen

Tapi Jika Wabah Berkepanjangan, Bisa Kolaps

20 Maret 2020, 18: 46: 15 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi multivitamin

Ilustrasi multivitamin (DOK/JAWAPOS)

Share this      

SURABAYA - Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi) Jawa Timur mencatatkan adanya lonjakan penjualan multivitamin kombinasi B complex dan vitamin C.

Menurut Ketua GP Farmasi Jatim Philips Pangestu, peningkatan ini sebagai akibat mulai merebaknya virus corona yang membuat banyak orang berbondong-bondong membeli vitamin untuk menjaga daya imunitas tubuhnya. Sehingga membuat penjualan produk ini meningkat signifikan.

Saat ini, kontribusi penjualan multivitamin kombinasi B complex dan vitamin C terhadap total penjualan farmasi Jatim berada di kisaran 20 persen. "Kalau sepanjang triwulan pertama 2020 ini, kami naik sekitar 10 persen dibanding periode yang sama tahun lalu," terangnya.

Philips menjelaskan, tren peningkatan tersebut sudah terjadi sejak seminggu terakhir. Tepatnya, ketika virus covid-19 resmi masuk Indonesia. "Kami melihat permintaan vitamin yang cukup tinggi ini merata di semua daerah Indonesia, termasuk Jatim," katanya.

Menurutnya, penjualan vitamin-vitamin tersebut bisa menjadi angin segar bagi industri farmasi di tengah berbagai hambatan yang ada. Utamanya masalah pasokan bahan baku yang semakin menipis. Pasalnya, selama ini mayoritas produsen farmasi tanah air masih ketergantungan impor bahan baku. "Paling besar dari Tiongkok, sekitar 80-an persen kami beli bahan baku dari sana," imbuhnya.

Kemudian 15 persennya diperoleh dari India, sisanya 5 persen terbagi di Amerika, Eropa, dan Australia. Philips juga mengungkapkan, sejak Maret ini banyak pengiriman bahan baku yang terlambat dan bahkan dibatalkan karena virus corona. Apalagi untuk bahan baku yang diperoleh langsung dari kota Wuhan sama sekali sudah tidak ada pengiriman.

Akhirnya, GP Farmasi mencari alternatif lain dari India. Tapi ternyata India juga impor dari Tiongkok. Hal ini membuat harga bahan baku sekarang naik luar biasa antara 20 – 50 persen.

Namun demikian, Philips menegaskan sampai akhir Maret nanti stok bahan baku farmasi masih aman. Pihaknya berharap supaya pemerintah bisa semakin bertindak cepat dalam mengatasi virus corona ini.

"Kami tidak jamin di triwulan dua dan seterusnya nanti apakah masih aman juga. Kalau misal bahan baku kosong otomatis kami tidak akan mampu mencetak growth seperti sekarang," tegasnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia