alexametrics
Selasa, 26 May 2020
radarsurabaya
Home > Hukum & Kriminal Surabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Modus Periksa Pakai Stetoskop, Guru Matematika Ini Cabuli 8 Muridnya

13 Maret 2020, 04: 15: 59 WIB | editor : Wijayanto

SUDAH DIPECAT: Kelakuan Nicholas Handy Biantoro ini tak layak ditiru.

SUDAH DIPECAT: Kelakuan Nicholas Handy Biantoro ini tak layak ditiru. (ISTIMEWA)

Share this      

SURABAYA - Entah apa yang ada di pikiran tersangka ini. Nicholas Handy Biantoro, 40, yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar (SD) di Surabaya tega mencabuli delapan orang muridnya yang duduk mulai dari kelas III hingga V. Korbannya adalah lima orang pria dan tiga perempuan yang semua adalah muridnya sendiri.

MODUS: Polisi menunjukkan stetoskop yang dipakai tersangka untuk mengelabuhi korbannya.

MODUS: Polisi menunjukkan stetoskop yang dipakai tersangka untuk mengelabuhi korbannya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Tersangka yang beralamat di Jalan Baruk Utara VIII, Rungkut, Surabaya, dan tinggal di Perumahan Nirwana Eksekutif Blok EE Surabaya tersebut akhirnya ditangkap Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya.

Wakasatreskrim Polrestabes Surabaya Kompol Ardian Satrio Utomo mengatakan, modus pencabulan yang dilakuan tersangka dengan mengajak korban yang juga muridnya ke rumahnya di Perumahan Nirwana Eksekutif. Kemudian dengan alasan dibersihkan badannya, korban kemudian dimandikan tersangka sambil diraba-raba bagian sensitifnya.

Setelah itu, korban diminta rebahan di kamar tidur dan diperiksa tersangka menggunakan stetoskop. Untuk korban perempuan diraba bagian dada dan alat vitalnya, begitu pun dengan korban pria. Tak eloknya, tersangka mengaku tak hanya mencabuli para korban di rumahnya.

“Pengakuannya, tersangka juga mencabuli korban ada yang di kamar mandi sekolah, ruang kosong, hingga di ruang kelas saat keadaan sedang sepi,” kata Ardian dalam konferensi pers, Kamis (12/3).

Ardian mengatakan, terungkapnya kasus ini bermula ketika pihaknya mendapat informasi dari orang tua korban terkait tindak pencabulan terhadap anaknya. Setelah diselidiki, ternyata ada sebanyak delapan orang korban yang melaporkan hal yang sama.

Pencabulan tersebut dilakukan mulai November 2019 hingga pertengahan Februari 2020 lalu. Korban diketahui tidak hanya sekali dicabuli, bahkan ada yang mendapat perlakuan cabul sebanyak dua hingga empat kali. “Kalau korban perempuan hanya diraba, sedangkan korban pria ada yang diraba bahkan dikocok alat vitalnya oleh tersangka,” ungkapnya.

Mantan Kasatreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak ini mengaku pihaknya telah menyita stetoskop yang dipakai tersangka. Ia mengaku masih mendalami kasus pencabulan ini terkait kemungkinan adanya korban lain.

Sementara terkait dengan perilaku menyimpang bapak satu anak ini, polisi masih akan memeriksakan kejiwaannya. “Kami akan lakukan tes kejiwaan terhadap tersangka. Tersangka sendiri sudah dikeluarkan dari sekolah tempatnya mengajar,” terangnya.

Sementara itu, tersangka Nicolas membantah jika dia tidak ada maksud untuk mencabuli murid-muridnya. Guru yang mengajar pelajaran matematika ini berkilah jika apa yang dilakukannya untuk membantu para siswanya membersihkan tubuh. Namun, ia mengaku menyesal melakukan hal itu. “Saya menyesal dan tidak melakukannya lagi,” ujarnya. (gun)

(sb/gun/jay/JPR)

 TOP