alexametrics
Minggu, 07 Jun 2020
radarsurabaya
Home > Iso Ae
icon featured
Iso Ae

Punya Banyak Anak Agar Suami Mau Bertobat

08 Maret 2020, 04: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Share this      

Kalau kata orang, banyak anak banyak rezeki. Kalau pemahaman Karin, 35, beda lagi. Di pikirannya, banyak anak bisa mengubah perangai suami. Entah dapat inspirasi dari mana dia.  

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya 

Ceritanya, Karin berada dalam hubungan pernikahan toxic. Donwori, 38, suaminya adalah tipikal suami abusive alias suka mukul. Tak peduli salah maupun benar. 

Entah hebat atau miris, hubungan pernikahan itu sudah jalan 11 tahun ini. Bahkan sudah menghasilkan anak tiga. Coba tebak alasannya? Apa? Karena anak? Yak, Anda salah. Awalnya, penulis juga berpikir demikian. Namun, rupanya bukan. Lantas apa?

Ada yang salah di pikiran Karin, dulu. Dia beranggapan, bercerai adalah sesuatu yang sangat buruk. Maka sebisa mungkin dia hindari. Akhirnya, mau seperti apa pun perlakuan Donwori kepadanya, Karin diam saja. 

Mirisnya lagi, perlakuan abusive Donwori ini sudah dia terima jauh sejak pacaran. Pasti pembaca ada yang nyeletuk, tahu gitu kenapa tetap dinikahi, Bhambaank ???  Yah, mau bagaimana lagi. Saat itu pikiran Karin terlalu polos untuk berpikir jernih. "Kalau tidak sama Donwori, siapa yang mau menikahi saya?" jawabnya di kantor pengacara dekat Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, kemarin (6/3). 

Oh rupanya dia insecure tentang jodoh. Aduh plis, mau kesal ya bagaimana kalau dengar jawabannya. Memang susah sih cari jodoh. Tapi, ya gak sembarang juga kan harusnya. Sampai menerima yang gak berkualitas gitu. "Saya sempat pikir, Donwori pasti berubah lah nanti saat sudah menikah," lanjutnya. 

Dan, kenyataannya tentu jauh dari bayangan. Bukannya makin tobat, setelah menikah Donwori semakin menjadi-jadi. Jenis KDRT-nya makin variatif. Kalau masa pacaran maksimal kena tampar cukup. Setelah menikah ya dipukul, direndam di bak mandi, disulut rokok, bahkan ditendang seperti bola pun sering. 

Sudah babak belur begitu, dia tidak kapok. Dia bahkan akhirnya hamil anak pertama. Berharap dengan Donwori yang jadi bapak, dia akan tobat. Kenyataannya tidak juga. Ia tetap babak belur jadi sasaran amukan. 

Kalau Karin bisa berpikir rasional, melihat percobaan pertamanya gagal harusnya sih dia sudah minta cerai. Keyakinannya terpecahkan, punya anak ternyata tak bisa mengubah perangai. Namun entah apa yang merasuki Karin. Dia mencoba lagi kedua kalinya, dia pun hamil lagi. Dengan harapan sama, Donwori tobat karena dititipi tanggung jawab anak.

Hasilnya bisa ditebak lah, Donwori tetap suka KDRT. Ia malah makin tak menghargai Karin. Sialnya, si Karin ini tak kapok. Dia hamil lagi untuk ketiga kalinya!

Berhasil?  Tidak lah. Malah, di kehamilan ketiga, Donwori sudah sering tak pulang. Tak juga memberikan nafkah. Dia grisinen di rumah yang penuh bayi. Bahkan, Donwori malah kecantol wanita lain.  Dari sini, Karin tersadarkan. Meski sudah sangat terlambat. "Bahkan berani bawa pulang selingkuhannya. Dilihat anak-anaknya," aku Karin. 

Merasa hal itu sudah tak benar, Karin maju menggugat cerai. Ia baru tersadarkan entah gimana ceritanya.  Tapi kalau boleh jujur, rada terlambat, Bhambankkk. Rugi banyak si perempuannya. Suami mah enak tinggal keluar dari rumah. Karin, ketiban menghidupi tiga mahluk hidup. Bayangkan gimana puyengnya. Ya gak masalah kalau wanita karir. Kalau sejak awal hanya ibu rumah tangga seperti Karin ini?  Gimana biaya jajannya? Gimana biaya sekolahnya? Aduuuh ampun-ampun. 

Pelajaran dari kisah Karin, ladies, please be smart. Kalau pasangan sejak zaman pacaran sudah terindikasi KDRT, mbok yao segera diputus. Jangan dijadikan suami. Kasian kamu dan anakmu nanti. 

Percaya deh, manusia itu gak akan berubah secara instan. Apalagi kalau perangai buruk, susah. Sekalinya kasar, suka mukul, ya seterusnya sampai menikah begitu. Jangan berharap dia akan berubah kalau sudah menikah. (*/opi) 

(sb/is/jay/JPR)

 TOP