alexametrics
Rabu, 08 Apr 2020
radarsurabaya
Home > Ekonomi Surabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Pertumbuhan Hotel di Jatim Kian Masif Capai 13 Persen

27 Februari 2020, 16: 45: 46 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi hotel

Ilustrasi hotel (DOK/JPC)

Share this      

SURABAYA – Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur mencatatkan adanya pertumbuhan hotel di setiap tahunnya selalu meningkat pesat. PHRI menyebut, rata-rata pertumbuhan pembangunan hotel baru di Jatim tiap tahunnya sekitar 13 persen.

Ketua PHRI Jatim Dwi Cahyono mencatatkan, pada 2017 total penginapan yang ada di provinsi paling timur pulau Jawa ini mencapai 1.881 hotel. Kemudian tahun 2018 angkanya naik lagi menjadi 2.180 hotel. "Untuk data 2019 memang belum keluar. Tapi kami rasa growth-nya bisa mencapai 20 persen didukung oleh virtual hotel operator (VHO) yang sekarang kian masif. Seperti OYO, RedDoorz, Airy," terangnya.

Namun demikian, dari total hotel yang ada, menurutnya, porsi hotel berbintang, mulai dari bintang satu sampai lima mencapai 30 persen. Sisanya 70 persen diisi oleh hotel non bintang seperti homestay dan losmen.

Dwi menambahkan, saat ini yang pembangunan hotelnya cukup masif di Jatim adalah hotel bintang empat dan lima. Terutama di area wisata. Sebab, ada beberapa daerah yang memoratorium pendirian hotel budget serta hotel bintang satu dan dua. Seperti di Batu dan Banyuwangi. "Wilayah tersebut hanya mengizinkan pembangunan hotel bintang empat sampai lima saja, karena jumlahnya memang sangat sedikit dibanding non bintang yang sudah melimpah," tegasnya.

Pihaknya memproyeksikan tahun ini akan ada penambahan lebih dari tiga ribu kamar khusus hotel bintang empat dan lima di Jatim. Menurut Dwi, hotel yang high class sangat dibutuhkan di daerah untuk menampung tamu-tamu VIP.

Terpisah, Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto menuturkan, pasar hotel berbintang di Surabaya sangat terbuka lebar. Sebab, tidak sedikit pebisnis-pebisnis dari berbagai daerah yang berkunjung ke Kota Pahlawan ini. Sepanjang tahun 2019 ada empat hotel baru di Surabaya. "Yakni, Kampi Hotel, Harris Hotel & Conventions serta Four Points by Sheraton Surabaya dan Grand Mercure Surabaya City. Segmen mereka pun berbeda-beda sesuai dengan kelas bintangnya," ujarnya.

Meskipun pembangunan masif, tapi pihaknya memprediksi kinerja hotel di Surabaya akan cenderung stagnan dalam beberapa tahun ke depan. Tingkat okupansi hotel di Surabaya saja rata-rata hanya 65 persen. "Semester pertama tahun 2020 akan sedikit berat karena banyak tanggal merah yang jatuh di tengah minggu sehingga mempengaruhi bisnis," ujarnya.

Selain itu, kenaikan harga tiket domestik juga menjadi salah satu faktor yang membuat sektor hotel jadi lesu. Namun Surabaya tertolong dengan sudah terhubungnya Tol Trans Jawa yang membuat beberapa orang memilih melalui jalan darat. "Mereka inilah yang menjadi pengisi hilangnya pasar domestik yang ke Surabaya melalui udara," katanya.

Ferry berharap, di semester dua nanti bisnis bisa kembali bergairah setelah libur Lebaran, karena sudah tidak banyak hari libur yang jatuh di pertengahan minggu. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP