alexametrics
Rabu, 01 Apr 2020
radarsurabaya
Home > Sidoarjo
icon featured
Sidoarjo

Kawasan Kumuh Di Kabupaten Sidoarjo Tinggal 31,22 Hektare 

27 Februari 2020, 13: 40: 18 WIB | editor : Agung Nugroho

BEBAS KUMUH: Wakil Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin saat peresmian program Kotaku

BEBAS KUMUH: Wakil Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin saat peresmian program Kotaku (RIZKY PUTRI PRATIMI/RADAR SIDOARJO)

Share this      

SIDOARJO-Program kota tanpa kumuh (Kotaku) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memberikan kontribusi pada pengurangan wilayah kumuh di Sidoarjo. Dari sebelumnya 301, 08 hektare. Saat ini menyisakan 31,22 hektare lahan kumuh. 

Koordinator rogram Kotaku Provinsi Jawa Timur Abdul Adjis mengatakan, pengurangan tersebut diantaranya ada pada 16 desa di enam kecamatan. Sukodono, Tanggulangin, Taman, Waru dan Sedati. 

Dari 16 desa tersebut. Ada kegiatan fisik dan infrastuktur lingkungan yang sudah dibangun. Seperti saptic tank komunal, rumah pompa termasuk pembangunan Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle (TPS3R), serta pembangunan taman dan mural. Untuk program Kotaku di Sidoarjo, Kementerian mengucurkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Rp 21,5 miliar. 

Di Desa Tambakcemandi misalnya, program Kotaku dimanfaatkan untuk membangun taman, yang diberi nama Taman Gissel. Taman yang berada di Dusun Gisik Kidul itu dilengkapi dengan dua gazebo dan sejumlah wahana bermain anak. Bahkan dinding taman itu juga dilengkapi dengan lukisan tiga dimensi.

Keberhasilan program Kotaku ini tidak hanya dari tim kementerian saja. Tetapi juga peran Pemkab Sidoarjo melalui dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). “Semoga di tahun 2020 ini bisa tuntas seutuhnya,” katanya. 

Saat ini pihaknya belum dapat memastikan apakah ada tambahan desa atau tidak yang menjadi target program Kotaku tahap selanjutnya. Adjis menuturkan, program tersebut sebenarnya memiliki dampak yang cukup signifikan untuk kawasan kumuh. Sebab, realisasinya terlihat sekali.

Dari 289 desa di Sidoarjo yang dampingi, ada 37 desa yang masih kumuh. “Angka ini jangan ditambah. Kita harus mencegah lingkungan yang tidak kumuh agar tidak menjadi kumuh,” harapnya.

Wakil Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin mengatakan yang penting adalah merubah pola pikir masyarakat. Agar berperilaku sehat. “Pemeliharaan melalui kelompok pemanfaat dan pemelihara juga tak kalah penting,” ungkapnya.

Dengan pemeliharaan yang optimal diharapkan usia fisik program tersebut lebih panjang dan memberikan manfaat bagi masyarakat yang lebih luas. (rpp/nis)

(sb/rpp/Nug/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia